“Anggarannya sangat besar atau bisa mencapai tiga kali lipat dari kereta cepat Jakarta-Bandung yang dibangun kontraktor China dan BUMN sehingga yang perlu ditingkatkan itu kondisi existing kereta api lintas utara,” katanya.
Menurut Hermanto, kondisi saat ini, kereta api jalur lintas utara Jakarta-Surabaya masih bisa melaju dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam. “Makanya yang existing ini akan ditingkatkan, dari kecepatan 100 km/jam menjadi 150 km/jam sehingga waktu tempuhnya juga bisa sekitar enam jam,” ungkapnya.
Hermanto menuturkan, pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya bisa saja dipercepat dari rencana semula 2030 asalkan anggarannya tersedia. “Kalau kereta cepat Jakarta-Bandung dibutuhkan sekitar Rp70 triliun, Jakarta- Surabaya bisa tiga kali lipat. Pemerintah juga punya alasan kenapa dibangun pada 2030 karena pembangunan infrastruktur itu fokusnya merata bukan hanya di Pulau Jawa saja,” katanya.
Anggota Komisi V DPR Muhidin Said menilai positif wacana pemerintah untuk melanjutkan proyek kereta cepat hingga Surabaya. Dengan catatan, proyek itu tidak memakai uang negara. “Kami dari DPR memandang itu positif sepanjang dikerjakan secara business to business karena kereta cepat ini kan komersial,” ujarnya.
Dia mengatakan, proyek sekelas kereta cepat tidak mungkin dibangun di luar Pulau Jawa karena alasan kelayakan secara komersial. “Jadi siapa pun yang mau berinvestasi untuk kereta cepatya silakansaja karenaitukan bagusbuat ekonomi,” tandasnya.