Kemenperin Pacu Industri Batu Mulia

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 21 Juni 2016 11:14 WIB
https: img.okezone.com content 2016 06 21 320 1420974 kemenperin-pacu-industri-batu-mulia-7ckEbKC1lj.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya meningkatkan pengembangan industri batu mulia dan perhiasan di dalam negeri agar dapat diterima di pasar internasional.

Sektor yang berbasis industri kecil menengah (IKM) ini dinilai memiliki kemampuan dan potensi besar untuk dikembangkan mengingat hampir semua provinsi di Indonesia memiliki sumber bahan batu mulia dan perhiasan dengan ciri khas masing-masing.

”Di samping itu, batu mulia yang selalu dirangkai dengan perhiasan emas dan perak sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat di Indonesia baik dari kalangan bawah, menengah hingga atas,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kemenperin Euis Saedah pada pembukaan Focus Group Discussion IKM Perhiasan di Kementerian Perindustrian di Jakarta.

Hingga tahun 2013 jumlah IKM batu mulia dan perhiasan tercatat sebanyak 40.774 unit usaha yang menyerap tenaga kerja sebanyak 114.628 orang dan nilai ekspor mencapai USD78,93 juta.

Sementara itu, berdasarkan data tahun 2015, jumlah perusahaan yang bergerak pada industri perhiasan mencapai 36.636 unit dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 332.802 orang dengan nilai produksi sebesar Rp11,15 triliun.

Kondisi ekonomi dunia yang belum stabil saat ini pun menurutnya tidak berpengaruh besar terhadap permintaan ekspor perhiasan di Indonesia. Itu terlihat dari nilai ekspor perhiasan dan permata sebagai komoditas yang terus memberikan nilai positif pada nilai ekspor nonmigas setiap bulannya.

”Pada Maret 2015 nilai ekspor perhiasan dan permata mencapai USD538,4 juta atau meningkat sebesar 24,15 persen dibandingkan Februari 2015,” tuturnya.

Euis juga menegaskan, pihaknya terus melakukan upaya pemberdayaan IKM yang telah terbukti mampu bertahan di tengah krisis ekonomi, menyerap banyak tenaga kerja, serta mampu sebagai penunjang dan pemerataan pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang mandiri.

Hingga tahun 2014 jumlah IKM di dalam negeri tercatat mencapai 3,5 juta unit dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 9 juta orang. ”Dari jumlah IKM tersebut, nilai investasi mencapai Rp34,94 triliun dan nilai ekspor sebesar USD19,6 miliar atau 11,14 persen dari total ekspor industri non-migas,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama Direktur IKM Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, potensi dan peluang industri batu mulia dan perhiasan di Indonesia cukup besar.

Untuk itu, diperlukan upaya-upaya terobosan untuk pengembangan produksi dan peningkatan daya saingnya.

Terkait hal tersebut, beberapa langkah terobosan yang dilakukan Kemenperin antara lain mendukung lembaga sertifikasi yang terstandar secara internasional, sehingga dapat menerbitkan sertifikat logam dan batu mulia Indonesia yang diakui oleh dunia internasional.

Selanjutnya, memberikan pelatihan dalam rangka peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), baik di bidang desain, pemotongan batu mulia dan perhiasan, serta penerapan teknologi terkini.

”Kami juga membuat kajian mendalam tentang potensi perhiasan batu mulia Indonesia sehingga masyarakat dunia dapat lebih mengenal dan memahami batu mulia dan perhiasan asal Indonesia,” ujar Gati.

Selain itu, dilakukan peningkatan promosi bagi hasil industri kerajinan perhiasan dan batu mulia agar dapat menjangkau masyarakat luas.

Kemenperin juga memberikan berbagai macam insentif guna menumbuhkan industri batu mulia dan perhiasan, antara lain bantuan mesin dan peralatan pada sentrasentra batu mulia dan perhiasan, pelatihan peningkatan SDM, pendampingan tenaga ahli perhiasan di bidang desain dan pemotongan, serta fasilitasi pameran, dalam dan luar negeri.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini