Dengan meningkatnya produksi kendaraan bermesin diesel, maka kelebihan solar bisa dimanfaatkan daripada diekspor dengan harga murah sehingga bisa menjadi insentif.
Dwi berharap,penggunaan solar bisa menggeser penggunaan premium yang pada 2014 tercatat masih 62 persen menjadi 49 persen hingga saat ini.
"Pada 2014 premium 62 persen, sekarang sudah menurun jadi 49 persen," katanya. Pertamina mengklaim impor solar terus menyusut hingga satu persen pada awal 2016.
Perseroan juga mengklaim saat ini mengalami surplus solar sekitar 1.700 kiloliter per hari atau setara 10 ribu barel dari rata-rata penyaluran solar harian sebesar 50 ribu kilo liter. Sementara produksi hingga Mei 2016 mencapai 51,14 juta barel dari target 125 juta barel.
(Dani Jumadil Akhir)