Harga Cokelat Alami Peningkatan

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 18 Juli 2016 12:19 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 18 320 1440387 harga-cokelat-alami-peningkatan-oIc7EQzH64.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)


PAGARALAM - Harga komoditas pertanian dan perkebunan di Kota Pagaralam mengalami peningkatan terutama kakao alias cokelat.

Pasalnya, di beberapa agen pengepul, cokelat di-banderol Rp30.000 per ki lo gram (Kg) . Sontak, kon disi ini membuat petani ka - kao terse nyum lebar. Agen pengepul cokelat, Mustopha,37, mengatakan, har ga cokelat sejak dua bulan lalu mengalami peningkatan. Dimana, sebelumnya harga cokelat tertinggi Rp25.000 perkg dan sekarang naik menjadi Rp30.000 perkg. “Sejak Juni lalu harga komo ditas ini mengalami peningkatan. Namun, hanya cokelat yang berkualitas bagus memi liki banderol sebesar itu.

Untuk cokelat yang berkualitas buruk disebutkannya memiliki harga di bawah Rp30.000 perkilo gramnya," ungkapnya. Dia menuturkan, cokelat yang benar-benar kering dan tua pasti diberi harga tertinggi. Bila masih basah dan muda harganya Rp20.000 perkg. Untuk itulah, agar mendapatkan harga tinggi diharapkan kualitas barang juga dijaga.

"Permintaan terhadap cokelat di pasar sedang tinggi. Sementara stok cokelat sendiri tidak terlalu banyak. Saat ini musim cokelat hampir habis. Sementara permintaan di pasar sedang tinggi-tingginya. Otomatis membuat harga jadi naik,” bebernya.

Tak hanya cokelat, harga rempah-rempah seperti cengkeh dan lada hitam juga lumayan tinggi. Mustofa menyebut, harga cengkeh berada di Rp 80.000 per kg. Demikian pula dengan lada hitam Rp 80.000-Rp85.000 per kg. Akan tetapi, yang paling mahal itu sebenarnya lada putih harganya bisa mencapai Rp150.000 per kg.

Kemudian, biji kopi kualitas bagus Rp19.000 perkg. “Kalau kopi memang lagi musim panen. Jadi banyak yang menjual kopinya di sini," katanya. Sementara itu, Amri,32, petani cokelat menuturkan, memang harga komo ditas ini tinggi ketika panen akan habis.

Sementara, ketika panen harga masih kerap dibawah Rp 20.000 per kg. Diharapkan, ada suatu wadah agar harga komoditas ini tetap stabil sehingga petani tidak diberi angin surga.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini