Share

Serbuan Buruh China Jangan Dianggap Enteng

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 19 Juli 2016 13:21 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 19 320 1441405 serbuan-buruh-china-jangan-dianggap-enteng-sTELR9C4NH.jpg Ilustrasi : Okezone

JAKARTA - DPR menyikapi serius masalah tenaga kerja asing (TKA) asal China yang membanjiri Indonesia.

DPR melalui Panitia Kerja (Panja) TKA yang dibentuk beberapa waktu lalu kembali akan memanggil pihak terkait guna menjelaskan masalah yang memicu kegelisahan masyarakat ini. Anggota Komisi IX DPR Saleh Partaonan Daulay mengatakan, pihak terkait di pemerintahan akan dipanggil untuk memberi penjelasan agar diperoleh informasi yang utuh.

Menurut Saleh, sebenarnya Panja sudah bekerja sejak informasi TKA asal China ini mencuat beberapa bulan lalu, namun hingga saat ini belum ada rekomendasi kepada pemerintah karena Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri selalu menampik informasi soal serbuan TKA asal China ini.

”Sebetulnya kita ini ada Panja TKA, tapi laporan-laporannya belum diselesaikan. Kita belum sampai kesimpulan apa yang akan direkomendasikan. Saat rapat dengan menaker, mereka masih menampik ada serbuan TKA itu. Nanti kita akan evaluasi lagi,” ucapnya di Gedung DPR, Jakarta, kemarin. Panja juga akan melakukan pengecekan lapangan dengan berkunjung ke daerah-daerah yang disebut sebagai lokasi serbuan para TKA tersebut.

Menurut Saleh, pemerintah harus menyeriusi permasalahan TKA ini karena akan menggerus peluang tenaga kerja lokal. Saat lapangan pekerjaan di Indonesia belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pekerja dalam negeri, pekerja asing justru diberi peluang masuk dengan mudah. Padahal, dengan mendahulukan pekerja lokal, banyak keuntungan akan diperoleh misalnya jumlah pengangguran akan berkurang. ”K emiskinan juga dapat ditanggulangi secara cepat,” ungkapnya.

Isu serbuan buruh asal China ini kembali mencuat karena informasi yang beredar jumlahnya akan mencapai 10 juta orang. Namun, sejauh ini pemerintah bersikukuh membantah data tersebut. Menaker M Hanif Dhakiri sudah terang-terangan membantah informasi tersebut. Hanif juga menyangkal serbuan pekerja China karena ada komitmen kerja sama antara Indonesia dan Pemerintah Negeri Tirai Bambu.

Dia mengungkapkan, jumlah pekerja China dalam satu tahun di Indonesia tidak pernah mencapai 1 juta, melainkan hanya 14.000-16.000 atau 20%-22% dari total pekerja asing. Munculnya angka 10 juta itu, kata dia, kemungkinan itu diolah dari target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Tanah Air yang jumlahnya 12 juta orang. ”Jadi bohong besar jika dikatakan akan ada 10 j u t a pekerja asing asal China yang masuk Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Minggu (17/7).

Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia) Mirah Sumirat menilai Menaker gagal fokus dalam menyikapi berita membanjirnya 10 juta TKA asal China ke Indonesia. Gagal fokus yang dimaksud adalah pernyataan menaker bahwa TKI di China jumlahnya jauh lebih besar dibanding TKA China yang ada di Tanah Air. Membandingkan TKI di luar negeri dengan TKA di Indonesia merupakan hal yang kurang tepat.

TKI di luar negeri, kata Mirah, dalam posisi mengerjakan pekerjaan yang relatif tidak dikerjakan oleh tenaga kerja di negara tersebut. Sementara TKA yang bekerja di Indonesia justru mengambil alih kesempatan bekerja bagi rakyat Indonesia karena pekerjaan yang dikerjakan oleh TKA tersebut sesungguhnya bisa dikerjakan oleh TKI.

Menurutnya, saat masih tingginya jumlah pengangguran di Indonesia, sikap menaker yang terkesan menggampangkan dan membiarkan membanjirnya pekerja asal China justru melukai perasaan ratusan juta rakyat Indonesia.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini