Lanjut Djoko, perekonomian nasional yang rendah juga berpengaruh terhadap pertumbuhan perusahaan investasi bodong di Indonesia. Bahkan, rendahnya perekonomian nasional menjadi momentum yang tepat bagi para pelaku untuk mengelabui masyarakat yang ingin mendapatkan uang dengan cara mudah.
"Saat perekonomian rendah, banyak yang dipecat, dan di situ mudah tergiur dengan investasi ini," tambahnya.
Djoko menyebutkan, perusahaan investasi bodong memang menggoda dengan keuntungan yang nyata. Di mana, masyarakat sudah tinggal memilih ingin berinvestasi dengan jumlah berapa dan sudah ada pula keuntungan yang didapat setiap bulannya.
"Orang bilang main di awal supaya menang di awal. Itu cita-citanya. Kenyataannya kayak judi. Kalau sudah menang, tambahin lagi tambahin lagi. Pada akhirnya berhenti saat habis, bukan saat menang. Jebol," katanya.
"Misalnya bunga 30 persen dapat Rp300 ribu. Bagaimana yang Rp10 juta eh benar, Rp100 juta benar, terus Rp1 miliar akhirnya jebol. Nah itu duit menang juga dari siapa? Pasti dari yang buntung, karena bukan profit produk. Uang panas cepat habisnya," sambungnya.