nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

INSPIRASI BISNIS: Berani Resign, Bedi Sukses Kelola 361 Gerai Quick Chicken

Danang Sugianto, Jurnalis · Sabtu 05 November 2016 20:16 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 11 05 320 1533806 inspirasi-bisnis-berani-resign-bedi-sukses-kelola-361-gerai-quick-chicken-SQbygFxR0F.jpg (Foto: Dok pribadi)

JAKARTA – Penganan ayam goreng tepung ala western alias fried chicken sudah lama akrab di lidah masyarakat Indonesia. Waralaba restoran fried chicken asing juga telah menjamur di Tanah Air sejak puluhan tahun silam.

Namun di tengah maraknya bendera restoran cepat saji fried chicken asing, ternyata terselip satu nama milik anak bangsa yang sudah lama bermain di ranah bisnis ini yakni Quick Chicken. Merek ini juga cukup dikenal masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sang pemilik, Bedi Zubaedi, mengisahkan bahwa Quick Chicken berdiri tepat pada 22 April 2000. Kala itu bisnis fried chicken sepenuhnya dikuasai waralaba asing. Sehingga, bisa dibilang Quick Chicken menjadi pionir bagi bisnis fried chicke lokal.

Bedi yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi di bidang juru masak mengungkapkan memang sejak awal lulus kuliah dirinya memiliki cita-cita ingin menjadi pebisnis kuliner. Namun ketika lulus kuliah pada akhir 1980-an, belum ada pebisnis Indonesia yang sukses mendirikan restoran.

"Dulu kuliah jurusannya masakan Eropa. Tapi setelah lulus bingung mau bikin resto Eropa belum laku. Restoran zaman dulu itu kan cuma ada di hotel-hotel bagus," kisahnya saat berbincang-bincang dengan Okezone di Jakarta.

Alhasil ketika lulus, dirinya memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu di beberapa restoran kenamaan, termasuk salah satu restoran Korea. Bisa dibilang sudah cukup kenyang pengalaman Bedi bekerja sebagi chef.

Kemudian pada 1987, Bedi mendapat tawaran bekerja di salah satu restoran cepat saji fried chicken asal Amerika Serikat (AS) California Pioneer Chicken. Ia pun sempat ragu menerima tawaran itu karena masih awam tentang sistem bisnis waralaba. Namun lantaran haus akan pengalaman, Bedi akhirnya menerima tawaran tersebut.

"Saat itu saya belajar tentang sistem waralaba. Dari situ juga saya pindah-pindah bekerja di restoran fried chicken. Saya pindah ke CFC (California Fried Chicken), kemudian ke Wendy's, terus balik lagi ke CFC," ungkapnya.

Cukup lama Bedi bekerja di salah satu restoran fried chicken. Bahkan, kariernya memuncak hingga menduduki kursi direksi. Namun pada akhir 1990-an rasa jenuh mulai menghantuinya. Cita-cita sebelumnya untuk menjadi pebisnis muncul lagi.

"Pada 2000, posisi saya sudah cukup bagus, tapi saya mengundurkan diri. Tapi itu prosesnya tidak gampang, saya izin istri dan dua anak saya. Dapat izin. Tapi ketika izin ke kedua orangtua, bapak tanya: ‘Apa sudah dipertimbangkan? Karena ini resikonya tinggi’. Ibu malah tidak diterima. Malah dibilang tidak bersyukur karena saya sudah dapat jabatan tinggi," tuturnya.

Meski begitu, Bedi tetap nekat memulai langkah kecilnya di dunia usaha. Saat itu ia langsung memilih bisnis fried chicken karena saat itu belum ada restoran serupa yang menyasar pangsa pasar menengah ke bawah.

"Saya mulai buka di Yogyakarta. Pertimbangannya ini fried chicken untuk kelas menengah ke bawah belum ada. Jadi saya musti buka di daerah, tapi tidak sembarangan. Yogyakarta itu kota pelajar dan wisata," kata Bedi.

Berbekal modal Rp55 juta, Bedi memilih untuk mendirikan Quick Chicken di sebuah ruko kecil berukuran 4 meter persegi. Kala itu Bedi juga menyiapkan dana cadang yang diambil dari tabungannya sebesar Rp110 juta. Uang tersebut dijadikan sebagai bantalan ketika bisnisnya mengalami kendala.

"Modal awal untuk sewa kios, kalau peralatannya bekas. Saya lihat restoran ada yang tutup mau jual kursi sama mejanya ya saya beli. Kompor, wajannya juga bekas, yang baru cuma piring sama sendok. Jadinya modalnya tidak cukup besar. Saya hanya siapkan uang untuk jaga-jaga," tutur Bedi.

Akhirnya dengan mempekerjakan tujuh karyawan, bahtera bisnisnya mulai berjalan. Namun tahun pertama menjadi tahun yang sulit baginya. Selama satu tahun bisnisnya itu tidak mendatangkan keuntungan, bahkan terus merugi.

Bedi harus menutupi kerugian sekira Rp2–3 juta hampir setiap bulannya selama satu tahun. Untungnya dia menyiapkan dana cadangan yang bisa dimanfaatkan untuk menutupi kerugian itu.

"Tapi saya selalu tanya ke tamu rasanya bagaimana. Hasilnya dari 10 itu, 9 pasti bilang suka. Saya juga sedikit jual nama kantor saya yang lama. Saya tinggalin kartu nama saya ketika masih jadi direktur. Saya cuma bilang dulu saya kerja di sini," ucap Bedi.

Akan tetapi Bedi merasa harus mencari strategi lain untuk menyelamatkan bisnisnya. Di bulan keenam, dirinya memutuskan membuka cabang. Quick Chicken lagi di tempat lain dengan harapan keuntungan cabang kedua bisa menutupi kerugian tersebut.

Cabang kedua yang berlokasi di Magelang memang memiliki keuntungan, namun ternyata belum bisa menutupi kerugian di cabang pertama. Akhirnya Bedi buka cabang lagi di Mojokerto. Barulah saat itu kerugian-kerugian yang dialaminya perlahan bisa diimbangi.

Pada 2003, keyakinan Bedi terhadap perkembang Quick Chiken semakin kuat ketika dirinya mendapat tawaran untuk mengisi di seluruh food court Matahari yang ada di Jawa Tengah. Namun karena bisnisnya saat ini belum bisa mendatangkan laba yang besar, Bedi kekurangan modal.

Namun dengan kenekatan, Bedi mengambil kesempatan tersebut. Ia pun ikhlas untuk melepas mobil kesayangannya untuk dijadikan modal. Bahkan, Bedi mengatakan juga sempat meminjam perhiasan istrinya, logam mulia, serta tabungan keluarga.

"Saya pakai semua. Istri juga mendukung. Akhirnya saat itu saya buka di delapan food court Matahari sekaligus," ujarnya.

Akan tetapi saat itulah titik balik dari bisnisnya. Quick Chicken mulai digemari masyarakat Jawa Tengah. Bedi juga semakin agresif untuk membuka cabang-cabang lagi hingga memasuki wilayah Jawa Timur.

Pada 2008, total gerai Quick Chicken sudah berjumlah 60-an cabang. Setiap cabangnya kala itu memiliki rata-rata omzet Rp30–40 juta dengan porsi profit 10–15%.

Namun ternyata di balik berkembangnya Quick Chicken ada jurus unik yang digunakannya. Bedi ternyata diam-diam mengikuti apa saja yang dilakukan oleh restoran fried chicken asal AS.

"Sebab saat itu masyarakat Indonesia nyebut restoran fried chicken itu CFC. Saya tanya Quick Chicken enggak tahu, tapi pas ditunjukin CFC di mana ternyata yang ditunjukin itu Quick Chicken. Yasudah saat itu saya ikutin semua produk-produknya," ucap Bedi.

Berkat strategi itu, Bedi menjadi terbiasa menciptakan minimal satu menu baru. Nama Quick Chicken juga ikut terkerek naik.

Harumnya nama Quick Chicken bukan hanya tercium oleh perlanggannya, tapi juga para pemburu bisnis. Kesuksesan Quick Chicken menggoda para pelanggan untuk menjadi mitranya. Dengan tangan terbuka, Bedi menerima tawaran itu.

Hanya dengan informasi dari mulut ke mulut, pada 2010, jumlah mitranya sudah mencapai 100 orang lebih. Dikarenakan melihat antusias yang cukup besar, akhirnya Bedi membuka peluang waralaba secara serius dengan membuat sistem kerjasama waralaba.

Singkat cerikat kini jumlah cabang Quick Chicken sudah mencapai 321 cabang yang tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Lombok, hingga Papua. Dari total gerai tersebut, 76 di antaranya miliknya sendiri sementara sisanya merupakan milik mitra.

Begini gambaran simulasi keuntungan waralaba dari mitra Quick Chicken:

 

Simulasi Usaha Awal Fried Chicken



Modal Awal (Hanya Kaos 1 Buah)

Rp250 Ribu

2 Fryer

Rp40 juta

Sewa Tempat 100 m2 per tahun

Rp15 juta

Renovasi tempat dan peralatan lengkap

Rp160 juta

Bahan baku awal, gaji 7 orang karyawan dan promosi

Rp35 juta

Asumsi Omset per Bulan

Rp80 juta

Biaya Bahan Baku per bulan

Rp40 Juta

Gaji 7 Orang Karyawan

Rp21 juta

Sewa Tempat, Listrik, PAM dan biaya operasional lainnya

Rp7 Juta

Profit per Bulan

Rp12 Juta

Perkiraan Balik Modal 21 bulan

Rp12 juta x 21

Rp252 Juta

 

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini