JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai ekspsor pada 2015 sebesar USD128,4 juta dengan total volume ekspor 62,77 juta ton. Sedangkan untuk Periode Januari-September 2016 ekspor mencapai USD86,35 juta.
Dari capaian tersebut, ekspor teh yang dilakukan masih berupa bahan baku, belum berupa produk jadi yang memiliki nilai tambah yang tinggi. Hal ini menjadi tentangan pemerintah untuk mengubah tatanan ekspor.
"Kita lebih besar domain ekspor bahan baku ya. Masih didominasi teh itu sendiri. Olahannya itu yang prlu kita dorong. Berupa saschet dan lain-lain Kita perlu melihat potensi-potensi yang bisa kita tingkatkan," ucap Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (21/11/2016).
Sebenarnya, lanjutnya, teh kita sudah dikenal oleh dunia. Mestinya ini peluang kita, bagaimana memanfaatkan dan bagaimana cara mengemas teh memiliki Value added yang lebih besar.
"Nah nilai tambah ini bisa masuk ke rantai pasok. Kemudian dalam pameran-pameran teh dunia, kita perkenalkan produk teh Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Chairman Jakarta Tea Buyer Farid Akbany menambahkan, dengan mutu yang secara konsisten, produksi meningkat, pelayanan sigap, teh Indonesia mampu bersaing degan teh penghasil yang lebih terkenal seperti Sri Lanka da India.
"Dengan usaha ini, sangat berhasil jika dalam waktu singkat, mutu, dan produksi teh Indonesia meningkat,"ucapnya.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.