“Sempet juga dapat komplain dari pelanggan kok sayurnya tidak sepedas biasanya. Tapi mau bagaimana lagi, kalau takarannya sama, harga jualnya harus naik, tapi kalau harganya naik , pasti pelanggan juga komplain,” katanya. Frizki, pemilik warung penyetan di daerah Meteseh, mengaku sebagai warung penyetan mulai dari tempe penyet, lele goreng, hingga ayam goreng wajib menyediakan sambal. Untuk menyiasati kenaikan harga cabai, dia mengurangi porsi sambal yang disediakan. “Kalau tidak begitu kami bisa rugi, karena harga jualnya tetap sama,” ucapnya.
Tumiran, pemilik warung makan di Pendrikan Kidul, Semarang Tengah, juga merasakan hal sama. Dia mengaku dipusingkan dengan naiknya harga cabai yang tinggi. “Mudah- mudahan saja kenaikan harga ini tidak berlangsung lama. Kalau sampai lama kita bisa susah,” ucapnya. Di Demak, Muzayanah, 31, pemilik warung penyet di Desa Karangasem, Kecamatan Sayung, mengaku tetap menjaga cita rasa dengan tidak mengurangi komposisi dalam meracik sambal.
Meskipun risikonya pendapatan dari penjualan menurun. “Ada yang menambah jumlah tomat atau gula, tapi saya tetap seperti biasanya. Begitu juga harga satu porsi makan juga tidak naik,” ungkapnya. Hutomo, 41, pemilik warung penyet Lamongan di Jalan Pantura Sayung menambahkan, kenaikan harga cabai menjadi masalah karena warung makan penyet wajib menyediakan sambal. “Ibaratnya, kami itu menjual sambal,” ujarnya. Nur Hamidah, seorang pedagang di Pasar Bintoro, mengaku kenaikan harga cabai karena minumnya hasil panen yang dipengaruhi musim hujan. “Stok minim dan musim hujan membuat cabai mudah membusuk,” katanya. (kmj)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.