Di sisi lain, hal yang perlu diperhatikan adalah beberapa negara di Eropa tengah memasuki masa pemilihan umum. Kondisi ini membuat negara seperti Jerman dan Italia cenderung proteksionis dan mengurangi komitmen dengan Eropa bersatu.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, salah satu sebab Yunani kembali menjadi sorotan adalah rasio utangnya yang menembus 200% dan defisit anggaran 4,2%. Dengan defisit sebesar itu, Yunani tidak mungkin bertahan di Eropa.
"Ini yang akan jadi topik pembicaraan 2 sampai 3 bulan ke depan. Kalau kita sudah lihat Brexit, dulu pernah disebutkan Grexit karena tidak mungkin Yunani akan tetap di Eropa dengan defisit lebih dari 3%," tambah dia.
Kondisi Yunani tersebut diperparah dengan masa pemilu di negara-negara kawasan Eropa yang biasanya membantu Yunani. Sebut saja Jerman, Belanda dan Perancis.
"Ketiganya posisi pemilihan umum sehingga mereka enggak memiliki posisi cukup bebas untuk bisa menyampaikan karena jelang pemilu itu banyak sentimen, ini yang akan menjadi ketidakpastian sampai Juni-Juli yang akan datang," cetusnya.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.