nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kekurangan Tenaga Konstruksi, Harga Bangunan di Hong Kong Melonjak!

Trio Hamdani, Jurnalis · Kamis 16 Maret 2017 09:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 15 470 1643103 kekurangan-tenaga-konstruksi-harga-bangunan-di-hong-kong-melonjak-9tMjPTE523.jpg Ilustrasi : Shutterstock

JAKARTA - Hong Kong merupakan pusat perkotaan yang dianggap sebagai kota paling terjangkau untuk dihuni dan melakukan pekerjaan. Namun, Hong Kong juga dianggap sebagai kota dengan bangunan-bangunan termahal di Asia.

Dilansir CNBC, mahalnya bangunan di Hong Kong, berdasarkan survei yang dilakukan global design and architecture consultancy Arcadis lantaran minimnya jumlah tenaga kerja di bidang konstruksi di kota tersebut.

Bahkan menurut website the city's Construction Industry Council, pekerja konstruksi yang terdaftar di Hong Kong hanya berjumlah 427.609 per Januari 2017.

Tak hanya itu, produktivitas dan jumlah jam kerja tenaga kerja konstruksi di Hong Kong juga mengalami penurunan. berdasarkan data Hong Kong's Construction Industry Alliance, 40% pekerja konstruksi yang terdaftar berusia di atas 50 tahun.

"Untuk menstabilkan biaya bangunan yang mengalami kenaikan, pemerintah dan penggiat industri konstruksi harus melihat investasi dalam berbagai prakarsa dan menemukan solusi yang dapat meningkatkan produktivitas pada industri," kata Arcadis Country Head for Hong Kong and Macau Francis Au dikutip CNBC.

Namun untuk sepanjang sisa tahun ini, beban kerja di industri konstruksi Hong Kong masih dapat dipertahankan dengan menunda proyek-proyek besar mendatang yang akan digarap Hong Kong, seperti jembatan Hong Kong-Zhuhai-Macau, dan program perumahan dengan 480.000 unit apartemen. Diperkirakan proyek ini akan dibangun selama dekade selanjutnya.

Ia pun berharap banyak pada kebijakan ekonomi China, mengingat pertumbuhan ekonomi negara tersebut belakangan ini mengalami perlambatan.

"Sebagai kebijakan ekonomi negara China adalah untuk memperluas ke luar negeri, kita dapat berharap untuk melihat lebih banyak dana Cina pergi ke negara-negara Asia lainnya seperti Filipina, Malaysia dan Kamboja untuk bahan bakar proyek infrastruktur bangunan," tambahnya.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini