Image

ADB Ramal Indonesia Cs Raih Untung dari Kenaikan Harga Komoditas

Dedy Afrianto, Jurnalis · Kamis 06 April 2017, 10:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 04 06 20 1660265 adb-ramal-indonesia-cs-raih-untung-dari-kenaikan-harga-komoditas-aJm6CLkXDQ.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pertumbuhan di Asia Tenggara secara umum diperkirakan akan semakin cepat, dengan hampir semua perekonomian memperlihatkan tren meningkat. Kawasan ini diperkirakan akan tumbuh 4,8% pada 2017 dan 5% pada 2018, dari yang sebelumnya tercatat 4,7% tahun lalu.

Dalam Asian Development Outlook (ADO) 2017, produsen komoditas seperti Malaysia, Vietnam, dan Indonesia akan diuntungkan oleh pemulihan harga pangan dan harga bahan bakar dunia.

Asia Selatan tercatat masih menjadi sub-kawasan yang tumbuh paling cepat dengan pertumbuhan mencapai 7% pada 2017 dan 7,2% pada 2018. Di India sebagai perekonomian terbesar sub-kawasan ini, pertumbuhan diperkirakan akan naik ke 7,4% pada 2017 dan 7,6% pada 2018, setelah pada 2016 mencatat pertumbuhan 11%.

Dampak dari demonetisasi uang kertas bernilai tinggi telah berkurang seiring masuknya uang kertas pengganti ke peredaran. Konsumsi yang lebih kuat dan reformasi fiskal juga diperkirakan akan meningkatkan keyakinan dunia usaha dan prospek investasi di India.

Pertumbuhan di Asia Tengah diperkirakan mencapai 3,1% pada 2017 dan 3,5% pada 2018 berkat kenaikan harga komoditas dan meningkatnya ekspor, walaupun terdapat perbedaan besar di antara negara-negara di kawasan ini. Sementara litu, negara-negara di kawasan Pasifik akan mencapai pertumbuhan 29% dan 3,3% selama dua tahun ke depan seiring mulai stabilnya Papua Nugini pasca kesulitan fiskal dan pulihnya Fiji dan Vanuatu dari bencana alam.

lnflasi harga konsumen regional diproyeksikan akan naik menjadi 3% pada 2017 dan 3,2% pada 2018, dari sebelumnya yang tercatat 2,5% pada 2016, karena permintaan konsumen yang lebih kuat dan harga komoditas global yang semakin meningkat. Namun, proyeksi inflasi untuk 2 tahun ke depan masih jauh di bawah rata-rata 10 tahun regional sebesar 3,9%.

Risiko yang dapat berpengaruh terhadap proyeksi ini antara lain adalah tingkat suku bunga Amerika Serikat yang lebih tinggi, yang akan mempercepat aliran modal keluar, meskipun risiko ini agak berkurang oleh melimpahnya likuiditas di kawasan ini. Pengaruh pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat kemungkinan terjadi secara perlahan-lahan, sehingga pemerintah di Asia dan Pasifik memiliki waktu untuk melakukan persiapan.

Perekonomian dengan nilai tukar fleksibel kemungkinkan dapat mengalami depresiasi mata uang yang lebih jauh dan inflasi lebih tinggi, sementara mata uang yang dikontrol pemerintah cenderung kurang terpengaruh dari dampak peningkatan daya saing lewat harga ekspor.

Di sisi domestik, kenaikan utang rumah tangga di beberapa perekonomian Asia mulai menjadi risiko yang perlu diperhatikan. Otoritas yang berwenang dapat mengatasi risiko ini melalui kehati-hatian kebijakan makro, seperti pengetatan rasio utang dan pendapatan bagi pinjaman. Selain itu dapat juga dilakukan intervensi yang lebih tegas di pasar perumahan guna mendinginkan permintaan spekulatif dan mencegah gelembung aset.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini