Share

Aturan Impor Sulit, Ketersediaan Ban Semakin Sukar

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 24 Mei 2017 12:41 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 24 320 1698656 aturan-impor-sulit-ketersediaan-ban-semakin-sukar-jvqFwtwmRd.jpg Ilustrasi: Okezone

JAKARTA – Gabungan Importir dan Pedagang Ban Indonesia (Gimpabi) mengharapkan pemerintah dapat memberikan kelonggaran terhadap proses impor ban yang saat ini semakin sulit dilakukan. Akibat kebijakan pembatasan impor, ketersediaan ban yang tidak diproduksi di Indonesia semakin sukar diperoleh sehingga berdampak pada harga yang memberatkan pelaku usaha di sektor riil.

Bendahara Gimpabi Rudy Josano mengungkapkan, kebijakan pemerintah membatasi ban impor itu melalui Permendag Nomor 77/M-DAG/ PER/11/2016 mulai berlaku 1 Januari 2017 dan mengakibatkan ban untuk industri tertentu sulit ditemui di pasar.

Akibat situasi ini, tidak hanya importir ban yang terancam usahanya, para pelaku usaha yang masih tergantung pada ban impor seperti di sektor pelabuhan, tambang, perkebunan, dan logistik pun harus menanggung beban biaya yang semakin tinggi.

“Mayoritas ban yang diimpor tidak diproduksi di Indonesia dan digunakan untuk kebutuhan sektor riil. Jika kondisi ini tidak berubah, dampaknya akan sangat berat bagi pelaku usaha, bukan hanya anggota Gimpabi, tapi terutama pengusaha di sektor strategis seperti pelabuhan, tambang, perkebunan, dan transportasi yang tergantung pada ban impor,” ungkap Rudy, di Jakarta, kemarin.

Sampai saat ini, porsi ban impor hanya sekira 10% dari total penjualan ban nasional di Indonesia. Selain porsinya terbatas, ban yang diimpor oleh para importir umum, yang sebagian besar menjadi anggota Gimpabi, juga belum diproduksi di Indonesia.

Menurut Rudy, sebagian besar ban impor merupakan ban jenis radial, ban pelabuhan, ban pertambangan, dan ban perkebunan yang diameternya bisa mencapai 2-3 meter (giant tire) yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri. Rudy menambahkan, dengan porsi yang kecil, ban impor sesungguhnya bukanlah ancaman bagi ban-ban yang diproduksi di Indonesia. Ban impor merupakan tipe ban ‘value added’ dengan manfaat yang lebih banyak.

Pengusaha transportasi tambang batu bara Hasan Tan menambahkan, kelangkaan ban yang saat ini terjadi mengakibatkan pelaku usaha harus menanggung beban biaya yang semakin mahal. Apalagi hal ini terjadi di tengah tren kenaikan harga bahan bakar akibat melonjaknya harga minyak dunia dan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini