Temuan Uang Palsu Menurun, Masyarakat Harus Tetap Waspada

ant, Jurnalis · Sabtu 17 Juni 2017 20:12 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 17 320 1718847 temuan-uang-palsu-menurun-masyarakat-harus-tetap-waspada-C7K3EuJ2Ha.jpg Ilustrasi: (Foto: Antara)

MALANG - Temuan uang palsu di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang selama kurun waktu Januari hingga Mei 2017 menurun, yakni 1.734 lembar dibanding pada periode yang sama tahun 2016, yang mencapai 3.336 lembar.

"Meski ada penurunan jumlah lembar uang palsu uang ditemukan, bukan berarti masyarakat abai terhadap peredaran uang palsu ini, apalagi menjelang Lebaran. Masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaannya," kata Kepala Tim Sistem pembayaran, Pengelolaan Uang Rupiah, Layanan dan Administrasi BI Malang Rini Mustikaningsih di Malang, Jawa Timur, Sabtu.

Menurut Rini, uang palsu itu diperoleh dari laporan masyarakat dan temuan perbankan. Uang palsu yang ditemukan itu sebagian besar adalah pecahan Rp50 ribu dan Rp100 ribu.

Ia mengemukakan dari sisi jumlah, uang palsu yang ditemukan tahun ini memang tidak sebanyak tahun lalu. Pada periode yang sama (Januari-Mei) 2016, uang palsu yang ditemukan mencapai 3.336 lembar. Sedangkan selama kurun waktu 2016, ada 6.444 lembar.

Akan tetapi, lanjutnya, angka tersebut adalah uang palsu yang teridentifikasi, baik dari laporan warga maupun perbankan. Sebab, mungkin saja realitas di lapangan jumlah uang palsu yang beredar jauh lebih banyak. Oleh karena itu, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap peredaran uang palsu.

Jasa penukaran uang baru di jalanan yang marak menjelang Lebaran, katanya, bisa menjadi media penyebaran uang palsu. "Sebenarnya kami sudah melakukan upaya untuk menertibkan penukaran uang ilegal itu. Beberapa kali kami bersama Satpol PP dan Dinas Perhubungan (Dishub) melakukan penertiban, namun ketika sudah ditertibkan, pasti muncul lagi," ujarnya.

Ketika upaya penertiban itu sulit dilakukan, lanjutnya, BI Malang hanya bisa mengimbau kepada masyarakat agar lebih waspada dan untuk melakukan penukaran uang baru sebaiknya di tempat-tempat resmi yang telah ditentukan, seperti layanan penukaran uang yang disediakan bank umum maupun bank perkreditan rakyat (BPR) atau lewat mobil kas keliling yang difasilitasi oleh perbankan.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Malang Dudi Herawadi ketika ditanya soal peredaran uang palsu tersebut, mengatakan pihaknya telah melakukan antisipasi dengan memakai cara konvensional, yakni melalui sosialisasi peningkatan pemahaman masyarakat terhadap ciri-ciri uang asli. Bukan ciri-ciri uang palsu.

Ia mengakui pihaknya memang menemukan kasus peredaran uang palsu, tapi masih terbilang kecil. "Satu hingga tiga lembar biasa. Itu dari setoran yang masuk ke perbankan dan perbankan juga telah melakukan klarifiaksi ke BI," katanya.

Menurut Dudi, data itu bukan berarti uang rupiah palsu banyak beredar di masyarakat, tetapi masyarakat semakin jeli dan mengetahui bagaimana membedakan rupiah yang asli dan palsu. Kesadaran mereka terhadap fungsi rupiah juga tinggi, bahkan saat menemukan uang palsu, mereka tidak membelanjakan lagi melainkan melaporkan ke BI untuk dicek apakah palsu ataukah asli.

"Harapan kami, dengan semakin gencarnya sosialisasi, masyarakat akan semakin mudah membedakan uang asli dan palsu, serta semakin waspada," ujarnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini