JAKARTA - Banyak perusahaan saat ini terus mengejar keuntungan tanpa memerhatikan kondisi di lingkungannya. Akibatnya, perusahaan tersebut hanya mengejar keuntungan semata tanpa melihat kondisi masyarakat.
Oleh karena itu, CEO Unilever Paul Polman mengatakan bahwa sistem politik dan ekonomi telah gagal membantu masyarakat. Menurutnya, kapitalisme perlu dibingkai ulang untuk bekerja demi kebaikan bersama.
Dia mengatakan, terlalu banyak perusahaan yang makmur dengan mengorbankan masyarakat dan alam. Karenanya, saat ini perusahaan harus belajar menjadi sukses sambil berkontribusi pada masyarakat dan mendukung ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Menurutnya, untuk sukses tidak selalu harus mengorbankan orang lain. Dia menilai, sikap menang sendiri tidak akan membawa perusahaan mencapai tujuannya.
Paul Polman adalah seorang pengusaha Belanda. Setelah masa kerja jangka panjang dengan Procter & Gamble, dia bergabung dengan dewan Nestlé pada 2006. Sejak 2009, dia menjadi chief executive officer (CEO) perusahaan barang konsumen Inggris-Belanda Unilever. Polman telah menerima beberapa penghargaan untuk kepemimpinan bisnis yang mengutamakan pembangunan berkelanjutan.
Polman lahir dan besar di Kota Enschede, Belanda, di sebuah keluarga Katolik dengan tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Ayahnya adalah eksekutif perusahaan ban dan sementara ibunya adalah mantan pengajar di sebuah sekolah. Polman pun berharap bisa menjadi dokter, sayangnya sekolah kedokteran kala itu ditentukan oleh undian dan dia gagal terpilih.
Dia pun memilih masuk ke Universitas Groningen dan mengambil gelar BBA/BA pada 1977. Setelah itu, dia melanjutkan studinya ke University of Cincinnati untuk mengambil gelar MA di bidang Ekonomi dan MBA di bidang Keuangan dan Pemasaran Internasional pada 1979.