JAKARTA - Pemerintah berencana membangun proyek kereta cepat Jakarta-Surabaya. Saat ini, proyek tersebut masih dalam tahap kajian.
Menurut Menteri Perhubungan Budi Karya, proyek ini akan dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Luhut Binsar Pandjaitan. Kajian pun akan terus dilakukan oleh pemerintah.
Baca juga: Jokowi Minta 2 Menteri Ini Kaji Porsi Kepemilikan Indonesia dalam Konsorsium Kereta Cepat
"Jakarta-Surabaya lagi distudi, Pak Luhut yang lead. Itu listrik tempat lama atau baru lagi distudi. Jepang memiliki preferensi, tapi bukan semata-mata Jepang. Kita harapkan Jepang punya visibilitas yang bagus. Kalau dia tidak visibel bisa negara lain," kata Budi Karya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (25/7/2017).
Hanya saja, saat ini belum terdapat kepastian nilai terkait pembangunan proyek ini. Kerja sama pun nantinya akan dilakukan dengan negara lainnya pada proyek ini.
"Belum, kan tadinya 160 km elektrik, tidak ada lintasan sebidang," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Luhut Binsar Pandjaitan mengharapkan kajian terkait proyek infrastruktur kereta cepat Jakarta-Surabaya ini dapat rampung bulan depan. Kajian ini kini juga tengah dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
"Masih kajian sedang jalan. Mudah-mudahan bulan depan sudah selesai kajian dari BPPT, Kereta Api Indonesia dengan Jepang. Nah kalau kajian itu sudah selesai, kita akan lihat. Kemarin saya sudah beri tahu bahwa itu ternyata ada 100 tikungan belok kiri kanan Jakarta-Surabaya. Nah sekarang mereka hitung apakah tetap pakai itu, atau bikin lagi satu rel. Jadi lagi dihitung kembali oleh mereka," kata Luhut.
Belum diketahui apakah proyek ini nantinya akan menggunakan kereta listrik atau diesel. Pemerintah pun akan melakukan pembahasan terkait program ini pada akhir Agustus jika hasil kajian telah dapat dikeluarkan.
Pemerintah belum memutuskan untuk bekerja sama dengan negara mana pun pada proyek ini. Pemerintah pun masih melihat berbagai kemungkinan kerja sama dengan negara lain.
"Sampai sekarang ini JICA (Japan Internasional Cooperation Agency) yang sudah terlibat untuk ikut survei. Kita lihat, kalau ada orang menawarkan struktur yang bagus yang lebih baik dari mereka jauh, tentu kami pertimbangkan," jelasnya.
(Fakhri Rezy)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.