JAKARTA - Pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung hingga kini belum terlihat proses pembangunannya. Hal ini dinilai baik karena memang rencana pembangunan kereta dengan kecepatan sekira 160 km per jam membutuhkan suatu kajian yang benar-benar pasti baik dari sisi keamanan hingga bisnis.
Praktisi Perkeretaapian dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Dwi Laksana mengatakan, sebetulnya jika dilihat dari rencana awal pembangunan kereta kecepatan tinggi Jakarta-Bandung itu, banyak permasalahan yang tidak sederhana.
Baca juga: Pilih Mana, Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Jakarta-Surabaya?
"Kalau menurut saya memang sudah cukup kompleks, pertama dari sisi pengadaan lahan atau pembebasan tanah, area lahan tidak stabil dan bisnis," tuturnya saat dihubungi Okezone.
Baca juga: Sindir Kereta Cepat, Jokowi Sebut Hyperloop. Apa Itu?
Dari sisi pengadaan lahan, Aditya mengatakan, sudah pasti memerlukan waktu dan biaya tinggi, karena sebetulnya jarak 148 km bukanlah jarak yang pendek. Artinya, bahwa untuk menyesuaikan dengan target pengoperasian kereta pada 2019 sudah pasti tidak mungkin.
"Jadwal pembangunan sendiri dijadwalkan dua tahun, itu kan kompleks," ujarnya.
Kemudian, struktur tanah antara Jakarta-Bandung terutama yang ada di daerah Priayangan antara Purwakarta dan Padalarang, topografi area akan sama dengan Jalan Tol Purbaleunyi. Area tanah di wilayah tersebut adalah lahan labil.
Oleh karena itu diperlukan kajian pembangunan kereta yang betul-betul mendalami ini karena berkaitan dengan keselamatan, kelaikan fungsi dan lainnya. Jangan sampai seperti Tol Cipularang-Purbaleunyi, di mana Jembatan Cisomang mengalami keretakan atau bbeberpa spot-spot tertentu ambles hingga longsor.
Baca juga: Catat! Ini Sederet Sindiran Jokowi untuk Proyek Kereta Cepat yang Lelet
"Jadi kan karena ini kereta nanti harus betul-betul dipersiapkan dengan baik. Tentu masalah keselamatan tidak bisa ditawar-tawa lagim Jadi pembangunan tidak bisa instan yah menurut saya. Karena harus lakukan kajian yang cermat," tuturnya.
Dari kelangsungan bisnis, Aditya mengatakan, jangan sampai pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung menjadi proyek yang gagal. Meskipun dilakukan business to business, tidak menggunakan dana APBN, tapi dalam konsorsium pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, ada perusahaan-perusahaan negara yang terlibat.
"Kita tidak mau ini gagal, karena yang dirugikan bangsa ini," pungkasnya.
(Rizkie Fauzian)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.