nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ingat! Pembangunan Sektor Industri Jangan Sampai Ganggu Defisit Anggaran

Trio Hamdani, Jurnalis · Kamis 03 Agustus 2017 12:23 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 03 20 1749022 ingat-pembangunan-sektor-industri-jangan-sampai-ganggu-defisit-anggaran-BtHQma5e1F.jpg Foto: Trio/Okezone

JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan Indonesia harus mampu mendorong lebih giat pembangunan sektor industri dengan tetap menjaga defisit.

"Jadi di sini adalah bagaimana mengelola keseimbangan makro dimana kita ingin bisa membangun industri kita tapi kita ingin bagaimana kita menjaga supaya defisit impor-ekspor sektor barang dan jasa masih pada level yang sehat," katanya di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (3/8/2017).

Namun dia mengakui, untuk menjaga defisit pada rentang yang sehat bukan perkara mudah. Banyak pekerjaan rumah yang mesti diperhatikan jika ingin menjaga defisit pada level yang wajar.

"Inginnya sih tidak defisit tapi tampaknya hanya pada waktu comodity boom 2000-2011 kita itu positif ekspor impor barang dan jasanya. Tapi pada orde baru pun ekspor impor barang dan jasanya defisit," lanjut Mirza.

Baca Juga:

Hal itu kata dia, kembali berlanjut di mana defisit agak sulit untuk dijaga pada kondisi yang sehat. Oleh karenanya itu menjadi fokus pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk lebih menjaga defisit. "Sekarang pada masa comodity boom lewat kita kembali defisit. Jadi bagaimana defisit dikelola pada level yang sehat," lanjutnya

Dia menambahkan, Indonesia amat perlu menjaga defisit. Sebab, angka defisit menjadi acuan bagi asing untuk menyalurkan dananya ke dalam negeri. Dengan begitu, maka pembangunan Indonesia dapat bergerak.

"Benchmark yang dipakai internasional itu jangan lebih dari 3%. Kalau negara maju seperti Amerika Serikat boleh defisit di atas 3% dari PDB, defisit ekspor impor barang dan jasanya boleh di atas 3% dari PDB. Tapi begitu bicara negara berkembang, kreditur internasional maunya negara berkembang harus defisitnya di bawah 3% apakah itu defisit APBN maupun ekspor impor barang dan jasa," terangnya.

Baca Juga:

"Itu kenapa kami di BI selalu bicara kita harus terus menjaga stabilitas. Alhamdulillah situasi stabilitas makro terus tunjukkan perbaikan setelah kita alami guncangan emerging market," pungkasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini