nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hadapi Anomali Kelesuan Ritel, BI Bakal Catat Data Jual-Beli Online

Trio Hamdani, Jurnalis · Kamis 03 Agustus 2017 18:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 03 20 1749355 hadapi-anomali-kelesuan-ritel-bi-bakal-catat-data-jual-beli-online-1i343yXNB9.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) bakal mengupayakan pengumpulan data konsumsi masyarakat yang melakukan kegiatan jual-beli lewat jalur nonkonvensional alias belanja online.

Kata Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo, hal itu guna memastikan benar atau tidaknya terjadi pelemahan daya beli masyarakat terhadap retail seperti yang terjadi belakangan ini, di tengah pulihnya perekonomian Indonesia.

"Mengenai data-data transaksi melalui online ini memang secara statistik beberapa belum tercover. kita masih terus dengan BPS bagaimana melihat transaksi-transaksi yang sebenarnya tidak melalui jalur-jalur yang tidak konvensional," kata dia di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (3/8/2017).

Menurutnya, transaksi jual beli secara online membuat aktivitas konsumsi masyarakat tidak terdata. Sehingga ketika BI merilis data mengenai daya beli masyarakat seolah terjadi pelemahan, sementara aktivitas jual-beli secara online sebenarnya masih cukup masif.

"Kalau kita melihat kegiatan melalui online itu kegiatan sebenarnya memotong rantai perdagangan karena langsung, dari produsen ke penjual kepada konsumen. Beberapa langkah step di tengah akan hilang (step dari pedagang)," lanjutnya lagi.

Baca Juga:

Pelemahan daya beli yang seolah terjadi sebenarnya hanya peralihan masyarakat dari belanja secara konvensional ke online dengan adanya beberapa pertimbangan yang lebih menguntungkan.

"Tentunya bagi konsumen akan lebih efisien, harga mungkin akan lebih murah dan di sini akan bisa meng-generate pertumbuhan ekonomi berikutnya. Hanya saja pada titik awal mungkin ada beberapa step, beberapa lapangan usaha yang di tengah dulu bisa memberikan nilai tambah itu akan hilang karena misalnya perdagangan tidak ada lagi rantai misalnya dari perantara satu, dua, atau tiga," paparnya lebih jauh.

Hilangnya perantara ketika aktivitas jual-beli itu berlangsung secara online membuat nilai tambah yang berkontribusi terhadap PDB menjadi hilang. Oleh karenanya, kata Dody, hal itu juga bisa saja membuat PDB menurun.

Baca Juga:

"Dalam statistik, PDB itu biasanya ada nilai tambah. Yang paling kecil, yang paling mudah itu biasanya adalah mempacking. Itu bisa memberikan nilai tambah output dalam PDB. Sekarang itu sudah tidak ada sehingga bisa saja angka PDB-nya sedikit turun tapi lebih ke generate di tahap-tahap berikutnya," ungkapnya.

Dia menambahkan, dengan demikian, adanya anomali yang memperlihatkan penurunan konsumsi masyarakat yang membuat seolah daya beli melemah padahal ekonomi sedang tumbuh mesti diperhatikan lebih lanjut.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini