nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

OKEZONE WEEK-END: Cerita Howard Schultz Dirikan Starbucks, Sempat Ditolak dan Pilih Resign

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Sabtu 26 Agustus 2017 18:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 08 26 320 1763683 okezone-week-end-cerita-howard-schultz-dirikan-starbucks-sempat-ditolak-dan-pilih-resign-IFpoPCxj8A.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA - Starbucks telah menjadi penjual kopi terbesar di dunia, yang memiliki kedai kopi hampir di seluruh penjuru bumi. Kesuksesan Starbucks pun tidak terlepas dari tangan dingin Howard Schultz.

Howard D Schultz lahir di Brooklyn, New York, pada 19 Juli 1953, dan pindah dengan keluarganya ke proyek Bayview Housing di Canarsie, sebuah lingkungan di tenggara Brooklyn, ketika dia berusia tiga tahun.

 Baca juga: OKEZONE WEEK-END: Cuaca Tak Menentu, Eksport Kopi Jadi "Galau"!

Schultz terlahir dengan bakat atletik alami, dia gemar bermain basket di sekitar rumahnya dan bola di sekolah. Tidak heran, jika kemudian dia mendapatkan beasiswa sepak bola ke Northern Michigan University pada 1970.

Setelah lulus dari Michigan dengan gelar Bachelor of Science bidang komunikasi pada 1975, Schultz menjadi salesman untuk Hammarplast, sebuah perusahaan yang menjual pembuat kopi Eropa di Amerika Serikat. Kerja kerasnya berhasil membawa dia ke jajaran direktur penjualan, pada awal 1980an.

Baca juga: OKEZONE WEEK-END: Indonesia Juara 2 Produsen Kopi Robusta!

Berada di posisi tersebut, membuat Schultz menyadari bahwa dia menjual lebih banyak pembuat kopi ke sebuah toko kecil di Seattle, Washington, calon Starbucks Coffee Tea and Spice Company di masa depan, yang saat itu masih bernama Macy's.

Howard Schultz pun penasaran dengan toko terebut. Dia pun mengunjungi toko tersebut pada 1981. Pada saat itu, Starbucks baru berusia sekitar 10 tahun, dan tidak memiliki cabang di luar Seattle. Pemilik asli perusahaan tersebut adalah tiga teman kuliah, Jerry Baldwin dan Gordon Bowker dan tetangganya, Zev Siegl. Mereka bertiga mendirikan Starbucks pada 1971 dengan logo putri duyung.

Pertemuan dengan ketiganya pun cukup mengubah pandangan Schultz, untuk pertama kalinya cerita dia pun mendengar tentang kopi yang bagus dan bagaimana rasanya yang enak.

Baca juga: OKEZONE WEEK-END: Dalam 15 Tahun, Ekspor Kopi Indonesia Tumbuh Subur 144.715%

Setahun setelah bertemu dengan para pendiri Starbucks, Howard Schultz dipekerjakan sebagai direktur operasi ritel dan pemasaran untuk perusahaan kopi, Starbucks, yang sedang tumbuh. Namun, pada awalnya perusahaan tersebut hanya menjual biji kopi, bukan minuman.

Pada 1983, saat bepergian di Milan, Italia, dia dikejutkan oleh banyaknya bar kopi yang ditemuinya. Sebuah ide kemudian terpikir olehnya: Starbucks harus menjual bukan hanya biji kopi tapi juga espresso.

Sekembalinya dari Milan, dia mencoba membujuk pemiliknya untuk menjual espresso tradisional selain bijih kopi, teh dan rempah-rempah yang telah lama mereka jual.

Sayangnya, perusahaan tempat dia bekerja tidak setuju dengan usulnya. Namun, Schultz tak putus asa, dia pun tetap merekomendasikan pembukaan kedai kopi, hingga akhirnya pemilik perusahaan kopi tempat dia bekerja mengizinkannya mendirikan sebuah kedai kopi di Seattle.

Kedai kopi yang didirikan Schultz cukup sukses, dan membawa ratusan pelanggan per hari, serta mempopulerkan kedai kopi di Seattle pada 1984. Tapi alih-alih menjadi sentimen positif bagi perusahaan, keberhasilan kedai kopi tersebut malah membuat para pendiri mereka ke arah defensif, dengan alasan mereka tidak ingin masuk ke bisnis restoran.

Frustrasi, Schultz memutuskan untuk meninggalkan Starbucks pada 1985. Dia pun membuka toko pertama dengan dana USD400 ribu dan memulai bisnisnya. Dia sama sekali tidak punya uang dan istrinya mengandung bayi pertama mereka.

Saat itu, dia dibantu oleh Jerry Baldwin dan Gordon Bowker. Selain itu, Schultz juga menerima USD100 ribu dari seorang dokter yang terkesan dengan semangat Schultz untuk mengambil resiko. Pada 1986, dia mengumpulkan semua uang yang dia butuhkan untuk membuka toko pertama, "Il Giornale", dinamai sesuai dengan surat kabar Milan dengan nama yang sama.

Selain kopi, toko itu menawarkan es krim dan tempat duduk kecil, dan memainkan musik opera sebagai latar belakang untuk menggambarkan pengalaman Italia. Dua tahun kemudian, manajemen Starbucks yang asli memutuskan untuk fokus pada Peet's Coffee & Tea dan menjual unit ritel Starbucks-nya ke Schultz dan Il Giornale seharga USD3,8 juta.

Schultz pun mengganti nama menjadi Il Giornale dengan nama Starbucks, dan secara agresif memperluas jangkauannya di seluruh Amerika Serikat. Wawasan tajam Schultz dalam real estat dan fokus garis kerasnya pada pertumbuhan mendorongnya untuk memperluas perusahaan dengan cepat.

Schultz tidak percaya bisnis waralaba, dan membuat Starbucks memiliki kepemilikan di setiap outlet dalam negeri. Pada 26 Juni 1992, Starbucks melakukan penawaran umum perdana dan perdagangan saham biasa di bawah ticker saham NASDAQ-NMS: SBUX. Penawaran tersebut dilakukan oleh Alex, Brown & Sons Inc. dan Wertheim Schroder & Co. Inc.

Pada tahun 2000, Schultz mengumumkan bahwa dia mengundurkan diri sebagai CEO Starbucks. Delapan tahun kemudian, dia kembali mengambil alih Starbuks. Dalam sebuah wawancara 2009 dengan CBS, Schultz mengatakan tentang misi utama Starbucks yang belum terpenuhi: "Kami tidak hanya ingin mengisi perut, kami bisnis kami ingin mengisi jiwa."

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini