Menko Luhut: Lebih Banyak Plastik di Laut dari pada Ikan!

Trio Hamdani, Jurnalis · Senin 11 September 2017 14:17 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 11 320 1773517 menko-luhut-lebih-banyak-plastik-di-laut-dari-pada-ikan-kCsxhJenAk.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Jika tak diatasi segera, sampah plastik bisa menjadi masalah yang super genting di Indonesia. Banyaknya sampah plastik yang gagal dikelola dengan baik membuat limbah padat tersebut terbuang ke laut. Akibatnya laut tercemar.

"Karena beratnya masalah, terutama masalah sampah plastik di laut, kita tidak memiliki kehebatan jika hanya berbicara tanpa tindakan," kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan dalam National Conference On Waste To Energy di Jakarta, Senin (11/9/2017).

Baca Juga: Dana Kelola Limbah Padat Hanya 2,6% dari APBD, Mampukah Indonesia Atasi Masalah Sampah?

Luhut mengingatkan bahwa dampak negatif yang diakibatkan sampah plastik yang mencemari laut cukup serius. Selain berbahaya bagi kelangsungan hidup biota laut, juga berbahaya bagi manusia yang mengkonsumsi hasil laut.

"Ada lebih banyak microplastic di laut daripada bintang di langit, dan akan
jadi lebih banyak plastik di laut daripada ikan pada tahun 2050 jika kita tidak melakukan apapun mengenai hal ini. Kita tidak bisa hanya berdebat dan tidak melakukan apapun," paparnya.

Baca Juga: Sulap Sampah Jadi Listrik, Menko Luhut Pastikan Pengusaha Daur Ulang Tidak "Mati"

Tentu, jika itu terjadi akan bertentangan dengan komitmen Pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang ingin mengurangi sampah plastik di laut. "Presiden Jokowi berjanji untuk mengurangi kontribusi Indonesia terhadap puing-puing plastik di laut sebesar 70% sebelum 2025," jelasnya.

Untuk melakukan tindakan itu, Luhut menyebut dibutuhkan kebijakan yang terukur dan pendekatan yang komprehensif. Sehingga diharapkan komitmen tersebut dapat terwujud.

Baca Juga: Jamin Listrik dari Sampah Plastik Tidak Bahaya, Menko Luhut: Di Swedia Sudah Dibangun Fasilitasnya!

"Indonesia juga telah memainkan peran penting dalam mengatasi masalah puing-puing plastik laut di tingkat global seperti Konferensi Samudra di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada bulan Juni yang lalu," tandasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini