Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Warren Buffett, Pernah Ditipu dan Berevolusi Jadi Konglomerat Bisnis

Koran SINDO , Jurnalis-Selasa, 03 Oktober 2017 |11:36 WIB
Kisah Warren Buffett, Pernah Ditipu dan Berevolusi Jadi Konglomerat Bisnis
Ilustrasi: Reuters
A
A
A

JAKARTA - Kejayaan Berkshire Hathaway yang menuntun pemiliknya, Warren Buffett, menjadi orang terkaya kedua di dunia pada 2017 tidak terlepas dari kepandaian Buffett bermain saham.

Pebisnis ulung asal Amerika Serikat (AS) itu menyulap Berkshire Hathaway dari pabrik tekstil menjadi salah satu perusahaan holding terbesar di dunia. Sejak membeli saham Berkshire Hathaway pada 1962, Buffett tidak langsung mengibarkan kesuksesan. Dia justru dirisaukan dengan melesunya bisnis tekstil dan sulitnya menambah pundi-pundi keuangan di badan internal.

Selain itu, pemilik Berkshire Hathaway Seabury Stanton mengecewakannya dengan janji dan harapan palsu. Buffett pun batal menjual saham di Berkshire Hathaway karena ditawar terlalu rendah.

Dia berpikir keras sebeum memutuskan membeli lebih banyak saham Berkshire Hathaway untuk memegang kendali dan memecat Stanton. Dengan pengalaman itu, Buffett tidak ingin Berkshire Hathaway runtuh akibat krisis keuangan. Pada 1967 Buffett mulai menambah industri asuransi sebagai bagian dari bisnis Berkshire Hathaway.

Alumnus Universitas Columbia itu membeli National Indemnity Company dan saham ekuitas Government Employees Insurance Company (GEICO). Sekitar 18 tahun kemudian Berkshire Hathaway menghentikan operasi tekstil. Saat ini Berkshire Hathaway menjadi salah satu perusahaan holding terbesar dan tersukses di dunia.

Ranah bisnisnya pun sudah sangat beragam, di an taranya perusahaan gula, ritel, jalan rel, perabot rumah tangga, ensiklopedia, vacuum cleaner, toko perhiasan, surat kabar, seragam, utilitas listrik dan gas, maskapai. Sederetan nama perusahaan terkemuka yang berada di bawah kendali Berkshire Hathaway ialah GEICO, Long & Foster, BNSF Railway, Lubrizol, Fruit of the Loom, Helsberg Diamonds, Flight Safety International, NetJet, dan Pampered Chef. Mereka juga memiliki saham sebesar 26,7% di perusahaan ma kanan Kraft Heinz Company. Selain itu, Berkshire Hathaway menjadi holding minoritas yang signifikan di American Express (17,15%), The Cocacola Company (9,4%), Wells Fargo (9,9%), IBM (6,9%), dan Apple (2,5%).

Sejak 2016 mereka mengakuisisi maskapai penerbangan, seperti United Airlines, Delta Air Lines, Southwest Airlines, American Airlines. Permainan saham merupakan bisnis yang menggiurkan dan menjanjikan. Menurut Buffett, seandainya seseorang berani membeli saham Coca-cola senilai USD40 (Rp500.000) saat perusahaan itu mulai IPO pada 1919, dia pasti kaya raya. Faktanya, sesuai laporan Coca-cola pada 2012, nilai investasi USD40 kini setara USD9,8 juta. Di hadapan Buffett, perluasan bisnis itu bukan sekadar kesuksesan, melainkan tantangan baru. Sebab, beban yang harus ditanggung semakin banyak dan berat.

“Ukuran merupakan musuh kinerja. Bahaya terbesar yang dihadapi perusahaan adalah kesuksesan yang terlalu besar,” ujar Buffett pada 2015, dikutip Aol .

Berkshire Hathaway memiliki 367.000 pegawai, meraup keuntungan ta hunan hingga USD24 miliar, dan kapitalisasi pasar hampir USD500 miliar. Perusahaan asuransi merupakan sumber utama pendapatan konglomerat asal AS tersebut. Mereka menggunakan premi float dan memberikan dana klaim asuransi setahun kemudian. Pemerhati investasi dan mitra Ruane Cunniff & Goldfarb, Jonathan Brandt, mengatakan bahwa Buffett me - nolak melakukan dividen dan memilih me lakukan akuisisi karena lebih produktif.

“Salah satu alasan Berkshire Hathaway maju di peringkat kapitalisasi pasar ialah karena mereka tidak mem beli dividen sehingga uang menumpuk,” katanya.

David Poppe, CEO Ruane Cunniff & Goldfarb, juga memuji kesabaran Buffett dalam berbisnis dan menghadapi permasalahan. “Pasar dari waktu ke waktu akan memberikan peluang. Dia akan menunggu sampai peluang itu mun cul. Dia sangat percaya diri akan menemukan kesempatan bagus. Dia sangat penyabar,” tandasnya.

Dilansir Washington Post, analis John B Harris juga mengatakan bahwa Berkshire Hathaway berevolusi dari perusahaan investasi menjadi konglomerat bisnis yang memegang penuh per usahaan. Tahun ini mereka mengakuisisi Precision Castparts USD32 miliar, Burlington Northern Santa Fe USD26,3 miliar, dan Duracell USD4,7 miliar.

Berdasarkan daftar Forbes Global 2000, Berkshire Hathaway merupakan perusahaan terbuka terbesar ketiga di dunia dan konglomerat kesembilan terbesar untuk kategori revenue. Saat ini Berkshire Hathaway dinobatkan sebagai perusahaan terbesar ketujuh dalam indeks S&P 500 dan memiliki harga saham termahal. Pada 22 September 2017 harga saham kelas A Berkshire Hathaway per lembar mencapai USD273.139. Jika angka pertumbuhan Berkshire Hathaway sesuai S&P 500 dengan dividen dalam 50 tahun terakhir sekitar 9,7%, me reka diprediksi dapat menjual saham tersebut senilai USD1.000.000 dalam 14 tahun mendatang.

“Sama seperti perusahaan lain, Berkshire Hathaway masih menyalurkan uang tunai pada setiap kuartal dari pendapatannya. Namun, ketika float asuransi membengkak, pertumbuhan float uang tunai juga kian membengkak. Pada 2017 pendapatan operasi mereka hanya USD3,6 miliar, sedangkan float-nya USD14 miliar,” kata Brandt.

(Dani Jumadil Akhir)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement