Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

ECONOMIC VIEWS: Artis Nunggak Pajak hingga Teori Kebahagiaan Albert Einstein Dijual

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Senin, 30 Oktober 2017 |09:30 WIB
ECONOMIC VIEWS: Artis Nunggak Pajak hingga Teori Kebahagiaan Albert Einstein Dijual
Foto: Feby/Okezone
A
A
A

JAKARTA - Sosok Deddy Corbuzier sempat membuat viral dengan menampilkan video bahwa yang memperlihatkan dirinya telah membayar pajak sebesar Rp2,5 miliar. Lewat postingan tersebut, magician ingin menegaskan sebagai Wajib Pajak yang taat.

Sementara itu, kementerian Keuangan menggelar seminar bertema "Sinergi Reformasi Perpajakan dan Bea Cukai" dalam rangka peringatan Hari Oeang ke-71. Dalam penyelenggaraan tersebut, Menteri Keuangan menyampaikan sejumlah poin terkait sinergi dua institusi di bawah pimpinannya.

Di sisi lain, catatan yang ditulis Albert Einstein berisi nasihat tentang kebahagiaan hidup terjual dalam lelang di Yerusalem senilai USD1,56 juta (Rp21 miliar).

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

Deddy Cobuzier Sindir Artis Pemilik Lamborghini yang Nunggak Pajak, Siapa Dia?

Ternyata maksud video tidak berhenti di sana saja. Pria yang memiliki satu anak ini sedikit ingin menyindir rekan artis lainnya yang kerap menggunakan media sosial untuk memamerkan harta kekayaannya.

"Ini (video) isi hati petugas pajak dan isi hati saya. Karena begini, berapa banyak selebriti-selebriti yang isi instagram, isi ketika wawancara di media itu yang dipamerin adalah mobil Lamborghini, Ferarri, hartanya, rumah, dan sebagainya," tuturnya di Kantor Pusat DJP, Jakarta, Rabu (25/10/2017).

Baca Juga: Sudah Bayar Rp2,5 Miliar, Kenapa Deddy Corbuzier Sambangi Kantor Pajak Lagi?

Dari situ, lanjut Deddy, apakah pernah ada artis yang memamerkan atau membanggakan jika dirinya taat membayar pajak.

"Saya pernah enggak pamerin itu (harta), enggak pernah. Paling instagram saya lagi nge-gym sama Aska (anak laki-lakinya). Enggak pernah mobil diinjek-injek enggak pernah," jelasnya.

Kalaupun mau menyombongkan diri, kata Deddy, bisa dilihat berapa besaran pajak yang telah dibayarnya. Dari sana, bisa dihitung berapa penghasilan selama satu tahun.

"Jangan sombongin lu punya apa, sombongin gue bayar pajak sisanya Rp2,5 miliar per tahun, penghasilan gue berapa, itu. Setidak-tidaknya gue bisa nyombongin gue bayar pajak dan bisa bayar. Tapi kalau mobil lambo (Lamborghini), pajaknya dibayar atau bodong?," sindirnya.

Baca Juga: Deddy Corbuzier: Nama Pajak Saya Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo Bukan 'DC'

Deddy mengingatkan, untuk teman-teman selebriti di Indonesia untuk membayar pajak dengan benar. Bukan sesuatu berlebihan, tapi ini suatu kewajiban sebagai warga negara yang baik.

"Tadi saya bicara dengan Kepala Kanwil, kalau lagi anak kecil ulangan, dia enggak nyontek pasti orang tuanya bilang keren enggak nyontek. Padahal memang seharusnya tidak nyontek. Begitu juga dengan pajak, bayar pajak enggak keren, bayar pajak itu harus dan normal. Jadi silahkanlah bangga ketika bayar pajak," tukasnya.

Ditegur Sri Mulyani, Seberapa Jauh Ditjen Pajak dan Bea Cukai Sudah Bersinergi

Sri Mulyani menekankan pentingnya Direktorat Jenderal Pajak serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melakukan sinergi, bukan sekadar untuk meningkatkan penerimaan negara, juga untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam memenuhi kewajiban di sektor perpajakan.

Baca Juga: Minta Ditjen Bea Cukai dan Pajak Bersinergi, Sri Mulyani Ingin Pengusaha Tak Pusing Lagi

Lantas, sebenarnya sudah seberapa jauh kedua institusi tersebut melaksanakan sinergi sebagaimana diinginkan Sri Mulyani?

"Kita begitu reformasi itu Kementerian Keuangan dalam hal ini Bea Cukai dan (Ditjen) Pajak, ada beberapa area yang sudah kita lakukan untuk kepentingan sinergi, dari sisdurnya (sistem dan prosedur) NIK (nomor identitas kepabeanan) melebur pada NPWP (nomor pokok wajib pajak)," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai Heru Pambudi saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (25/10/2017).

Contoh tersebut merupakan sinergi di sisi teknis. Tak sebatas, itu, kata dia, sinergi juga terjadi pada segi otomasi, mulai dari pertukaran data secara realtime antara Bea Cukai dan Pajak, hingga pemblokiran terhadap importir yang kedapatan tidak menyerahkan SPT. "Kalau sudah serahkan SPT tentu blokir kita buka," sambungnya.

Baca Juga: Perayaan Hari Oeang, Sri Mulyani: Kita Pungut Pajak Bukan karena Hobi

"Sinergi di area lain secondment (semacam pertukaran pegawai), yaitu pegawai Bea Cukai berada di kantor DJP (Ditjen Pajak), pun demikian sebaliknya. Tentunya ini bukan formalitas tetapi mereka menerjemahkan sinergi policy dalam bentuk operasional sehari-hari," papar Heru.

Dia meyakini sinergi semacam itu  akan lebih efektif. Output dari secondment itu sendiri dijelaskannya adalah menyelesaikan masalah operasional lalu membuat rekomendasi untuk penguatan sinergi, khususnya di bidang sumber daya manusia.

Baca Juga: Sudah Bayar Rp2,5 Miliar, Kenapa Deddy Corbuzier Sambangi Kantor Pajak Lagi?

"Kemudian di bidang insentif fiskal beberapa sudah tanya soal itu misal PLB (pusat logistik berikat) akan kita lakukan sinergi lanjutan sehingga fasilitasnya bukan Bea Cukai, bukan (Ditjen) Pajak tapi fasilitas fiskal dari Kementerian Keuangan. Jadi kita tidak lagi bicara masing-masing ditjen, tapi ini kebijakan fiskal," terangnya.

Hal-hal itu, tambah dia, nantinya akan diteruskan tak hanya sebatas pada Kementerian Keuangan. "Ada dua, yaitu dengan lembaga terkait dan penegak hukum dan sinergi dengan pelaku usaha, ini challenge harus dilakukan, cara strategis lagi bukan lagi soal operasional," tandasnya.

Dilelang, Catatan Teori Kebahagiaan Albert Einstein Terjual Rp21 Miliar

Einstein memberikan catatan itu kepada seorang kurir di Tokyo pada 1922 sebagai pengganti uang tip. Saat itu Einstein baru saja mendengar kabar bahwa dia menang Nobel Fisika dan menjelaskan bahwa jika dia beruntung, catatan itu akan sangat bernilai tinggi. Dia menjelaskan dalam catatan itu bahwa mencapai tujuan yang lama diimpikan tidak menjamin kebahagiaan.

Fisikawan kelahiran Jerman itu meraih Nobel dan berada di Jepang saat tur memberikan kuliah. Saat seorang kurir datang ke kamarnya untuk membawa kiriman, Einstein tidak memberinya uang sebagai tip atas jasa kurir tersebut. Einstein justru memberinya catatan dengan tanda tangannya, menggunakan kertas dengan lambang Imperial Hotel Tokyo.

Satu kalimat dia tulis dalam bahasa Jerman yang artinya, ”Hidup yang tenang dan rendah hati akan memberi lebih banyak kebahagiaan dibandingkan mengejar kesuksesan dan kegelisahan konstan yang datang bersamanya.” Catatan kedua ditulis dengan kalimat, ”Di mana ada keinginan, di situ ada jalan.”

Menurut rumah lelang Winner, catatan kedua itu terjual senilai USD240.000. ”Nilai penjualan pada kedua catatan itu jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan harga pra lelang,” papar pernyataan rumah lelang tersebut. Pembeli salah satu catatan itu adalah warga Eropa yang ingin namanya tetap di rahasiakan.

Penjual catatan itu adalah keponakan kurir tersebut. Einstein juga terkenal dengan berbagai nasihatnya yang lain, yakni ”Kita tidak dapat menyelesaikan masalah kita dengan pemikiran yang sama yang kita gunakan saat menciptakan masalah itu.” Nasihat Einstein lainnya, ”Tanda kecerdasan sebenarnya bu kan pengetahuan, tapi imajinasi.”

Einstein juga sering mengucapkan, ”Kita masih tidak tahu seperseribu dari satu persen tentang apa yang alam ungkapkan kepada kita.” Dia juga sering mengatakan, ”Saat Anda berpacaran dengan seorang gadis selama satu jam, rasanya seperti satu detik. Saat Anda duduk di abu panas se detik, terasa seperti satu jam. Itu lah relativitas.”

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement