Kinerja BUMN Masih Turun, Apa Pembentukan Holding Terlalu Dipaksakan?

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 06 Desember 2017 20:15 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 06 320 1826329 kinerja-bumn-masih-turun-apa-pembentukan-holding-terlalu-dipaksakan-i2nO8PtI10.jpg Foto: Yohana Artha Uly/Okezone

JAKARTA - Pemerintah saat ini tengah gencar melakukan holding BUMN. Baru-baru ini yang terbentuk adalah BUMN Pertambangan pada 29 November dengan induk perusahaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) (Inalum) sebagai induk holding. Adapun ketiga anak usahanya yakni PT Timah (Persero) Tbk, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam) dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA).

Sebelumnya terdapat pula Holding Semen dan Holding Pupuk yang telah terbentuk. Pemerintah juga berencana membentuk holding company lainnya yakni sektor migas yang ditargetkan bisa terbentuk dikuartal I tahun 2018, kemudian sektor perbankan, pangan, perumahan, konstruksi, dan jalan tol.

Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai langkah pemerintah dalam membentuk holding BUMN terlalu terburu-buru. Menurutnya, kinerja BUMN menunjukkan penurunan sejak tahun 2014. Hal ini terlihat dari laba bersih dan kontribusi BUMN terhadap Produk Domsetik Bruto (PDB) menunjukkan penurunan, pada 2014 Rp40 triliun, 2015 Rp37 triliun, 2016 Rp36 triliun dan pada semester I 2017 sebesar Rp32 triliun.

Baca juga: Akuisisi Pertagas ke PGN, Langkah Awal Holding BUMN Migas

Pada tahun 2014, ia mengatakan dari 119 BUMN hanya 93 BUMN yang mencatatkan laba bersih sedangkan 26 BUMN lainnya merugi. Ia mengatakan holding ini dapat menimbulkan ketidakpercayaan antara manajerial perusahaan yang melakukan holding.

"Saya khawatirkan kalau ini terburu-buru ini akan menimbulkan distrust diantara manejerial di anak-anak usahanya itu. Yang kedua, transisinya ini itu akan mendapatkan penolakan banyak sekali dari pekerja karena dikhawatirkan terjadinya rasionalisasi," ujar Bhima di Kantor Lembaga Administrasi Negara, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Pasalnya dalam masa transisi holding BUMN, kata Bhima, akan memakan energi yang begitu besar yang berdampak pada fokus perusahaan mengerjakan koorporasinya.

"Karena dia (perusahaan) sibuk menggabungkan diri, manajerialnya berubah dan segala macam jadi tidak fokus," tambahnya.

Selanjutnya, menurut ia tak ada jaminan setelah terbentuk kinerja Holding BUMN akan lebih baik. Ia mengatakan, kinerja baik ini tak dapat dilihat dari total aset dan ekuitas, pasalnya penggabungan memang akan menambah total aset dan ekuitas. Ia pun mencontohkan seperti yang baru dilakukan yakni Holding Pertambangan yang menurutnya perlu dipertanyakan kinerjanya pasca terbentuk.

"Jangan ngomongin aset, jangan ngomongin ekuitas, karena yang namanya ekuitas dan aset dari 4 perusahaan dijadiin satu pasti otomatis jadi gede. Tapi sampai sekarang belum ada jaminan return-nya atau profitnya bisa naik berapa persen, itu yang belum ada," ungkapnya.

Baca juga: Holding BUMN Migas, Pertagas Didorong Kuasai Hilir Gas Bumi

Sehingga menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana holding tak sebabkan ketidakpercayaan dan gangguan operasional antara perusahaan dalam masa transisi. Sehingga bila hal itu belum siap yang perlu dilakukan adalah menunda holding.

"Kalau belum yah ditunda, jangan buru-buru, harus disiapin semua dulu, infrastruktur holding-nya dulu. Saya aja misalkan kerja di BUMN ,saya juga panik, mau saya karyawan paling bawah atau level manajemennya, harus ada rapat terus, evaluasi, ditanya-tanya terus, ahirnya saya ga fokus ngerjain. Kendati sekarang harga-harga komoditas lagi naik. Tapi ini bisa blunder bagi BUMN sendiri," pungkasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini