Image

BEI Perkirakan Aturan Penjatahan Saham IPO Kelar Kuartal I-2018

Trio Hamdani, Jurnalis · Kamis 14 Desember 2017 13:55 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 14 278 1830251 bei-perkirakan-aturan-penjatahan-saham-ipo-kelar-kuartal-i-2018-xu5pB1y4TX.jpg Foto: Trio/Okezone

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan aturan penjatahan saham milik calon perusahaan di pasar modal untuk investor ritel dan institusi pada masa penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) selesai pada kuartal I-2018.

Saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI tengah mengkaji aturan penjatahan saham milik calon perusahaan di pasar modal untuk investor ritel dan institusi pada saat IPO. Kajian ini, dilatarbelakangi adanya ketidaksesuaian porsi saham untuk investor institusi dan ritel pada IPO.

Baca Juga: OJK dan BEI Kaji Aturan Penjatahan Saham untuk Investor Ritel dan Institusi

"(Aturannya selesai) tentunya tergantung dari OJK, aturan alokasi akan diubah dan beberapa aturan dari sisi penawaran umum karena mekanismenya berubah targetnya sih kalau dari tim berdasarkan arahan dari OJK kuartal pertama 2018 sudah selesai," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat ketika ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Syamsul menilai dengan adanya aturan itu bakal berpengaruh terhadap peningkatan likuiditas dan poris kepemilikan saham oleh publik sehingga BEI menyambut baik adanya rencana pembatasan tersebut yang aturannya masih digodok.

"Kami diminta dalam satu tim untuk menyusun hal-hal apa yang mesti dilakukan dan kami lihat ke depannya ini merupakan satu hal yang cukup baik karena kita ingin membuat IPO itu sesuatu yang lebih dirasakan oleh semua pihak karena porsi poolingnya mungkin dilebarkan atau besarkan," ujarnya.

Baca Juga: Optimisme Pasar Modal Menghadapi Tahun Politik 2018

Dalam rencana penerapan aturan tersebut, posisi underwriter atau penjamin emisi efek juga diperhatikan. Kata Syamsul, pihaknya juga tetap mempertimbangkan kemampuan si underwriter.

"Artinya kita juga tetap buat suatu formulasi yang tidak terlalu membebani underwriter tapi tujuan utamanya adalah meningkatkan kepemilikan. Jadi kalau saat ini modalnya partisipasi dari publik hanya 1.000 investor atau bahkan di bawah 1.000, kita berharap dengan aturan main yang baru itu maka investor yang masuk di IPO misalkan ada 30.000 investor," sebutnya.

Baca Juga: BEI Catat 2 Obligasi Senilai Rp1,45 Triliun Minggu Ini

Oleh karenanya, tambah Samsul, nantinya kepemilikan saham oleh publik atau investor ritel akan diatur porsinya berapa persen tergantung jumlah lembar saham yang diperdagangkan saat IPO.

"Misalkan IPO di bawah 50 miliar (lembar saham) berapa kebanyakan, 50-100 (miliar lembar saham) minimal berapa persen, 100-250 (miliar lembar saham) minimal berapa persen gitu dibuat. Ada strateginya juga kalau misalkan nanti IPO Rp50 triliun, kan kalau 5% berat juga bagi underwriter," tandasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini