Utang Luar Negeri Naik 4,8% Jadi USD341,5 Miliar, Dinilai Kurang Produktif

Lidya Julita Sembiring, Jurnalis · Sabtu 16 Desember 2017 18:28 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 16 20 1831405 utang-luar-negeri-naik-4-8-jadi-usd341-5-miliar-dinilai-kurang-produktif-TThXsfCf04.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 4,8% (yoy) menjadi USD341,5 miliar hingga akhir Oktober 2017.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) dilihat dari kelompok peminjam, pertumbuhan ULN didorong oleh peningkatan ULN sektor swasta dan sektor publik (pemerintah dan bank sentral). ULN sektor swasta tumbuh stabil sebesar 1,3% (yoy), sementara ULN sektor publik tumbuh 8,4% (yoy).

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira mengatakan pertumbuhan ULN bulan Oktober masih didorong oleh ULN sektor publik ini menandakan bahwa Pemerintah semakin agresif menambah utang untuk menutup defisit anggaran yang diperkirakan berada dikisaran 2,7% terhadap PDB tahun ini.

Baca juga: Naik 4,7%, Kini Utang Luar Negeri Indonesia Jadi USD340 Miliar

Sementara pertumbuhan utang luar negeri swasta mengalami stagnasi dengan tumbuh 1,3% sama dengan bulan sebelumnya.

“Hal ini menandakan sektor swasta belum berniat menambah kapasitas produksi atau berekspansi,” ungkap Bhima melalui keterangannya, Jakarta, Sabtu (16/12/2017).

Sebanyak 77% ULN swasta masih terkonsentrasi di 4 sektor utama yakni keuangan, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih. Ke-empat sektor tersebut khususnya industri manufaktur masih tumbuh dibawah ekspektasi.

Baca juga: Pembangunan Digencarkan, Utang Luar Negeri Terus Bertambah

“Hal yang perlu diperhatikan dari ULN adalah peningkatan ULN jangka pendek lebih tinggi dari jangka panjang. Tercatat ULN jangka pendek tumbuh 10,6% sementara ULN jangka panjang tumbuh 3,9%. Risiko missmatch akan mengganggu likuiditas swasta maupun sektor publik dalam membayar ULN yang jatuh tempo,” jelasnya.

Risiko utang juga bisa dilihat dari DSR atau debt to service ratio yang merupakan rasio pembayaran utang terhadap kinerja ekspor. Per triwulan 3 2017 angka DSR Tier 1 menyentuh 26,39%. Angka ini terus naik sejak awal tahun.

“Peningkatan DSR membuktikan bahwa utang yang ditarik tidak berkorelasi positif terhadap sektor produktif yakni ekspor. Dibanding 5 tahun lalu DSR masih tercatat 17,28%,” kata Bhima.

Baca juga: Pertumbuhan Utang Luar Negeri Indonesia Melambat

Ia memproyeksi hingga akhir tahun 2017 pertumbuhan ULN akan naik cukup signifikan dibanding tahun 2016. Pada bulan Desember penerbitan surat utang baru sebagai bentuk prefunding kebutuhan anggaran tahun depan akan menaikkan pertumbuhan ULN sektor publik.

“Pemerintah merealisasikan penjualan surat utang negara di awal Desember dalam denominasi dolar AS senilai total USD4 miliar atau setara Rp54 triliun dalam rangka prefunding. Rasio ULN terhadap PDB diperkirakan menembus 35%-36%,” tukasnya. (ljs)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini