Mengintip Pabrik Rokok Milik Hartono Bersaudara, Orang Terkaya di Indonesia

Lidya Julita Sembiring, Jurnalis · Selasa 19 Desember 2017 19:46 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 19 320 1832967 mengintip-pabrik-rokok-milik-hartono-bersaudara-orang-terkaya-di-indonesia-KWLNAqPsHi.jpg Foto: Pabrik Djarum di Kudus (Lidya/Okezone)

KUDUS - PT Djarum merupakan salah satu perusahaan rokok terbesar yang ada di Indonesia. Terlebih lagi, pemilik perusahaan rokok turun temurun tersebut dimiliki oleh orang terkaya di Indonesia yakni Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono atau disebut Hartono bersaudara.

Tercatat, Hartono bersaudara memiliki kekayaan mencapai USD32,3 miliar atau setara Rp436,05 triliun (kurs Rp13.500 per USD) versi Forbes 2017.

Kali ini, Okezone berkesempatan untuk mengunjungi salah satu pabrik rokok yang sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia tersebut. Pabrik yang berhasil dikunjungi yakni milik PT Djarum Unit SKT (Sigarer Kretek Tangan) Karangbener.

Di pabrik ini, Okezone berhasil menyaksikan bagaimana proses pembuatan rokok dengan mengunakan tangan mulai dari proses pelintingan hingga memasukkan rokok ke dalam kotaknya.

 

Ternyata pembuatan rokok dengan jenis SKT ini tidak semudah yang terlihat. Tidak hanya membutuhkan kecepatan tapi juga ketelatenan hingga bisa menciptakan rokok yang sehari-hari di lihat di warung.

Dalam pabrik milik orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2017 ini, para pekerja di dominasi oleh para wanita yang berasal dari daerah sekitar. Meski ada pula lelaki di bagian pengepakan dan hanya puluhan orang saja.

"Jumlah pegawai kita di pabrik ini saja 4.500 sampai 5.000 orang," ungkap GM Produksi PT Djarum Wibowo Saputro di Kudus, Semarang, Selasa (19/12/2017).

 

Selain itu, ia menyebutkan pegawai di pabrik tersebut semuanya berasal dari daerah sekitar dan tidak ada dari luar Kudus. Waktu bekerja para pegawai dari pukul 06.00 WIB-13.00 WIB dengan sistem borongan.

Setiap sepasang pegawai ditargetkan untuk mengerjakan 4.000 batang per harinya, yang dihargai Rp28.000 untuk seribu batang. Artinya untuk 4.000 maka gajinya sekitar Rp100.000 dibagi dua sehingga per orang Rp50.000.

"Sistem borongan dari jam 6 pagi sampai jam 1 siang. Sekitar Rp50.000 per harinya," tukas Wibowo.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini