Image

Panen Masih Surplus, Indonesia Belum Perlu Impor Beras

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 08 Januari 2018 13:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 08 320 1841640 panen-masih-surplus-indonesia-belum-perlu-impor-beras-5KtDQqtcDN.jpg Beras (Foto: Okezone)

JAKARTA – Wacana impor beras dinilai belum mendesak dibutuhkan karena hasil panen tanaman padi saat ini cukup melimpah.

“Sebagai contoh, hasil panen tanaman padi di Kudus saja cukup melimpah karena luas lahan di Kecamatan Undaan pada Januari 2018 yang siap panen mencapai 5.000 hektare lebih dengan tingkat produktivitas hingga 7,3 ton per hektare,” ujar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian Momon Rusmono saat ditemui seusai panen tanaman padi di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kemarin.

Baca Juga: Harga Beras Mulai Tak Terkendali, Pedagang Minta Operasi Pasar

Setelah Februari 2018, menurut dia, luas areal lahan yang hendak dipanen justru lebih luas, termasuk di kabupaten lain. Untuk Provinsi Jateng, katanya, pada bulan ini alokasi panen sekitar 110.652 hektare sedangkan untuk Februari 2018 tercatat ada sekitar 340.000 hektare.

Oleh karena itu, ia menilai, Provinsi Jateng luas panennya mencukupi.

“Artinya, stok beras yang ada tidak hanya untuk kebutuhan provinsi, melainkan untuk kebutuhan nasional,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, dia mengatakan, lazimnya tidak perlu impor beras. Petani akan menangis karena masuknya beras impor tentu akan mengakibatkan harga jual beras petani anjlok. Secara nasional stok beras bisa mencapai sejuta ton sehingga cukup memenuhi kebutuhan masyarakat selama dua hingga tiga bulan mendatang.

Baca Juga: Beras di Bangka Belitung Langka, Ini Penyebabnya

“Pada bulan depan akan ada panen raya sehingga target tahun 2018 untuk penyerapan beras oleh Perum Bulog 3,7 juta ton tentu bisa terpenuhi,” ujar Momon. Apabila target Bulog terpenuhi, dia mengungkapkan, hingga tahun depan tidak ada lagi kekurangan beras.

Sementara itu, luas areal panen untuk skala nasional pada Januari 2018 sekitar satu hingga 1,2 juta hektare sehingga ketika produktivitasnya mencapai enam ton saja, maka memiliki stok enam juta ton gabah kering panen (GKP).

“Jika rendemennya 50%, maka punya tiga juta ton beras, sedangkan tingkat konsumsi beras nasional berkisar 2,6 juta ton. Asumsi kami stok yang ada cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Dia juga optimistis bahwa target swasembada pangan bisa terpenuhi namun semua pihak harus bekerja keras. Selain itu, dia juga mengapresiasi dukungan dari TNI dan Polri, bahkan di masing-masing kabupaten ada pengawalan dan penanggung jawab upaya khusus (upsus) tiga komoditas utama padi, jagung, dan kedelai (pajale). Berdasarkan data Kementerian Pertanian, luas tanam secara nasional pada Juli-Sep tember 2017 mencapai 1,0 hingga 1,1 juta hektare per bulan sehingga naik dua kali lipat di bandingkan dengan periode sebelum ada program Upsus hanya 500.000 hektare per bulan.

(ulf)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini