nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Investor China Diundang Modali 10 Destinasi Wisata Indonesia

ant, Jurnalis · Rabu 24 Januari 2018 12:58 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 24 320 1849496 investor-china-diundang-modali-10-destinasi-wisata-indonesia-Ef14NPyOoy.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

BEIJING - Menteri Pariwisata RI Arief Yahya mengundang investor China menanamkan modalnya di 10 destinasi wisata Indonesia selain Pulau Bali.

"Saya rasa kewajiban China untuk masuk ke Indonesia," ujarnya di Beijing, Selasa (23/1) malam, menjawab pertanyaan awak media China mengenai kemungkinan masuknya investor Tiongkok ke 10 destinasi wisata di Indonesia itu.

Dia menyebutkan bahwa pada 2016, investasi China di Indonesia hanya senilai USD6,22 miliar dan menduduki peringkat ke-16.

 Baca juga: Targetkan Devisa USD18,7 Miliar dari 17 juta Wisatawan, Menpar Andalkan Visit Indonesia

Namun pada 2017 nilai investasi China melonjak drastis dengan pencapaian USD318 miliar dan berada di peringkat kedua setelah Singapura yang mencapai USD385 miliar.

"Oleh karena itu, kami meyakini China akan menjadi investor asing terbesar di Indonesia pada tahun ini. Jangan ragu-ragu untuk berinvestasi di Indonesia," katanya di sela-sela kampanye Bali Aman di Ibu Kota China itu.

Kalau investor China bersedia menanamkan modalnya di sejumlah destinasi wisata yang dijuluki 10 New Bali itu, lanjut Menpar, maka akan memudahkan mereka membawa wisatawan dari daratan Tiongkok tersebut.

"Dalam bahasa Indonesianya jeruk makan jeruk. Mereka bangun sendiri, jual sendiri, lalu beli sendiri," ujar Arief.

 Baca juga: Tarik Minat 3,57 Juta Wisatawan, Pemerintah Siapkan Rp300 Miliar untuk Wisata Perbatasan

Dia menjelaskan bahwa pada 2019 semua infrastruktur dan kebutuhan dasar di 10 destinasi tersebut akan rampung, seperti bandara, pelabuhan, jalan raya, ketersediaan air dan listrik.

"Di Danau Toba sudah ada bandara internasional. Nanti di Yogyakarta juga ada. Di Belitung juga sama. Dengan begitu, investasi yang ditanamkan akan bisa berbalik minimal lima kali lipat," katanya menambahkan.

Biaya kunjungan wisata ke 10 daerah itu juga tidak akan mahal karena sudah ada bandara internasional.

"Kalau ke Danau Toba dari Beijing bisa langsung dan itu lebih murah dibandingkan dengan carter (pesawat). Mau ke Belitug juga bisa langsung karena bandaranya juga telah berkelas internasional," katanya.

China merupakan penyumbang terbesar wisatawan asing ke Indonesia, terutama Bali, dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2018, Kementerian Pariwisata menargetkan tiga juta kunjungan wisatawan asing asal China ke Indonesia karena juga bertepatan dengan penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang.

Pada 2017, Kemenpar menargetkan dua juta kunjungan wisman dari China. Namun target itu meleset karena Bali terkena dampak letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem yang memaksa penutupan sementara Bandara Internasional Ngurah Rai di kawasan Kuta, Kabupaten Badung, pada November 2017.

Sementara itu, Ketua Tim Percepatan Pengembangan 10 Destinasi Prioritas, Hiramsyah Sambudhi Thaib, di depan para pelaku industri pariwisata China menyebutkan bahwa pengembangan kesepuluh wilayah tersebut membutuhkan modal senilai USD20 miliar.

Dia memerinci 10 destinasi tersebut meliputi Danau Toba yang membutuhkan investasi senilai USD1,6 miliar, Tanjung Kelayang (USD1,4 miliar), Tanjung Lesung (USD4 miliar), Kepulauan Seribu dan Kota Jakarta (USD1,5 miliar), Borobudur (USD1,5 miliar), Bromo-Tengger-Semeru (USD1,4 miliar), Mandalika (USD3 miliar), Labuan Bajo (USD1,2 miliar), Wakatobi (USD1,5 miliar), dan Morotai (USD2,9 miliar).

Pada 2019 pemerintah memproyeksikan kunjungan 10 juta wisatawan asing ke 10 destinasi prioritas tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini