JAKARTA - Sepekan paska terbentuk, Komite Keselamatan Konsturksi (KKK/K3) langsung menggelar rapat tertutup di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Hal itu menyusul terjadinya kasus kecelakaan kerja pada proyek pekerjaan sipil pembangunan fasilitas kereta api jalur Manggarai-Jatinegara double double track (DDT).
Direktur Jembatan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang juga anggota Komite Keselamatan Konstruksi (K3) Iwan Zarkasi mengatakan, dari hasil laporan sementara di lapangan, ada dua hal yang menjadi dugaan sementara penyebab kecelakaan, yakni dari sisi alat berat dan tenaga kerja.
"Dugaan sementara ada dua hal yang menjadi penyebab. Pertama, peralatan dan tenaga kerja. Ini yang harus diperhatikan lebih lanjut," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakayat, Jakarta, Senin (5/2/2018).
Baca Juga: Komite Keselamatan Konstruksi Bakal Ungkap Penyebab Jatuhnya Crane di Jatinegara Hari Ini
Menurut Iwan, meskipun alat-alat yang digunakan merupakan alat-alat yang baru, namun dirinya masih belum bisa memastikan jika alat tersebut dalam kondisi baik. Pasalnya, saat tinjauan lapangan kemarin, dia belum bisa mengecek peralatan secara langsung, lantaran masih dihalangi garis pembatas polisi (police line).
"Alat tersebut sudah biasa digunakan dan juga baru, digunakan untuk pemasangan 6 segmen dan itu sukses. Tapi saat manuver bergerak ke segmen 7 ada problem. Problem ini dari hasil ekspose bisa kita simpulkan, karena akses ke sana masih diberi police line, dari tim enggak bisa langsung ke lokasi. Kecuali setelah pengamanan bisa masuk. Jadi observasinya mohon waktu," jelasnya.
Iwan mengatakan, selain peralatan dirinya bersama dengan tim K3 juga akan melakukan investigasi kepada para pekerja proyek. Namun dari hasil penyelidikan sementara, psikis dari para pekerja sebelum kejadian cukup terganggu.
Sesaat sebelum kejadian, kondisi lapangan diguyur hujan deras sementara para pekeraja menunggu hujan reda. Setelah reda, ada dugaan mereka mengerjakan pekerjaannya dengan kondisi basah dan kedinginan. Sehingga, hal tersebut cukup menganggu konsentrasi pengerjaan.
"Jam 11.00 malam hujan. Tanaga kerja tunggu lama, jam 05.00 baru mulai. Psikis kerja dalam keadaan basah saya tidak tahu atau observasi lapangan. Mereka itu sebenarnya sudah pekerja certified," ucap Iwan.
Baca Juga: Kementerian PUPR Imbau Jangan Ada Kecelakaan Kerja dari Kontraktor
"Kalau SDM kita akan wawancara plus diskusi dengan mereka. Terus terang yanga ada di sana empat meninggal. Sudah dipetakan posisinya di mana-mananya. Siapa mengerjakan apa, bisa ditelusuri," imbuhnya.
Iwan mengatakan, dari dugaan sementara, jatuhnya crane disebabkan oleh tersenggolnya tumpuan sementara oleh dudukan gandengan truk. Sehingga kondisi tumpuan tidak stabil karena seharusnya launcher tersebut memiliki dua tumpuan agar tidak terjatuh.
"Istilahnya front leg. Gandengan truk ada dudukan. Itu nyenggol tumpuan sementara. Posisi launcher gantry harus ditahan dua crane minimal agar tidak jatuh. Keadaan belum stabil, dalam posisi belum normal. Setelah crane siap, tim baru bisa masuk," jelasnya.
(ulf)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.