nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bulog Cuma Sanggup Cari Beras Impor 281.000 Ton

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 21 Februari 2018 16:52 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 02 21 320 1862694 bulog-cuma-sanggup-cari-beras-impor-281-000-ton-suBzl8PosK.jpg Ilustrasi Beras (Foto: ANT)

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menerbitkan izin importasi beras sebanyak 500.000 ton yang diberikan kepada Perum Bulog. Namun, beras impor yang akan digunakan untuk menstabilkan harga, hanya bisa didatangkan sebanyak 281.000 ton hingga akhir Febuari 2018.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, impor beras sudah disampaikan kepada Kementerian Koordinator bidang Perekonomian dan Kementerian Perdagangan. Namun, dari penugasan sebanyak 500.000 ton, Bulog hanya bisa memasukan kurang lebih 281.000 ton.

"Ini hasil kami dapatkan hanya sekian. Eksportir hanya sanggup segitu," tuturnya, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (21/2/2018).

Menurut Djarot, ada beberapa penyebab kenapa beras tidak bisa di impor sebanyak 500.000 ton. Dalam waktu sangat pendek, negara ekspor beras ke Indonesia kesulitan mengumpulkan beras beras.

"Beras itu kan tidak terkumpul 100.000 ton dalam satu tempat, kita bayangkan kalau gudang besar, gudang Bulog satu unit 3.500 ton, sehingga kalau bicara ratus ribu ton tentu harus kolekting," ujarnya.

Baca Juga: Beras Impor Bakal Banjiri Indonesia hingga Akhir Februari

Selain itu, para eksportir juga butuh waktu untuk mengemas beras yang sudah dikolekting dan disimpan dalam curah. Setelah itu, eksportir beras ke Indonesia harus mencari kapal yang cukup untuk mengirimkan beras tersebut.

"Kapal itu pada umummnya punya jalur sendiri, secara rutin. Kalau dadakan tentu dia harus cari kapal dari daerah lain, kondisi ini tentu tidak mudah untuk jumlah banyak dalam waktu mepet ini jadi hambatan," tuturnya.

Tercatat dari 281 ribu ton yang rencananya diimpor, sudah datang 57 ribu ton beras asal Vietnam.

Sekertaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati mengatakan, selama Febuari 2018 seluruh beras impor tiba di Jakarta. Di mana dari jumlah beras impor yang sudah tiba sebanyak 57 ribu ton baru dari Vietnam.

Guna mendatangkan beras impor sendiri, diperkirakan butuh dana sebesar Rp 3,6 triliun. Dana tersebut setelah menghitung dari mulai harga beras, bea masuk, asuransi dan beberapa hal lainya yang diperkirakan Rp7.300.

Baca Juga: 6.000 Ton Beras Impor di Pelabuhan Merak Belum Dibongkar

Jumlah tersebut langsung dikalikan jumlah beras yang diimpor. Artinya Rp7.300 dikalikan 500.000 ton beras hasilnya sekitar Rp3,6 triliun.

Dana sebesar Rp3,6 triliun nantinya berasal dari kas perseroan. Adapun posisi keuangan kas Bulog saat ini sebesar Rp9,8 triliun.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari kas Bulog dan juga kreditor. Dimana kreditor yang dimaksud merupakan kreditor resmi dan bukanlah suplayer.

Nantinya proses impor tersebut dilakukan secara profesional atau business to business (B to B). Peserta yang mengikuti lelang diharuskan terdaftar sebagai asosiasi pengekspor beras di negara-negara yang telah ditunjuk.

beras impor yang sudah datang itu merapat di beberapa pelabuhan. Seperti di Pelabuhan Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur, sudah dibongkar sebanyak 10 ribu ton.

Kedatangan beras impor asal Vietnam ini berbarengan dengan musim panen. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, sudah mulai terjadi panen di sejumlah daerah Indonesia. Mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahkan panen pada saat ini dikhawatirkan akan membuat harga gabah kering panen di petani menurun hingga pemerintah akan membuat tim khusus agar harga tidak jatuh terlalu jauh dari Harga Pokok Penjualan (HPP).

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini