Share

Pasar Saham Asia Dibuka Memperpanjang Pelemahan

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Jum'at 02 Maret 2018 08:47 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 02 278 1866857 pasar-saham-asia-dibuka-memperpanjang-pelemahan-OzX6QAmi8A.jpg Ilustrasi Indeks Asia. (Foto: Reuters)

TOKYO - Pasar saham Asia memperpanjang aksi jual, seiring pelemahan Wall Street karena investor bingung dengan pidato Presiden Donald Trump yang mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan tarif untuk impor baja dan aluminium.

Indeks MSCI, indeks saham yang paling luas di Asia Pasifik di luar Jepang, turun 0,2% sementara indeks Nikkei Jepang jatuh 2,4%.

Di Wall Street, indeks S&P 500 kehilangan 36,16 poin atau 1,33% menjadi 2.677, sehari setelah para investor melakukan penjualan karena kekhawatiran bahwa Federal Reserve mungkin akan menaikkan suku bunga lebih dari yang diperkirakan tahun ini.

Trump mengatakan, tarif 25% untuk baja dan 10% pada aluminium akan diumumkan secara resmi minggu depan, meskipun pejabat Gedung Putih kemudian mengatakan beberapa rincian masih perlu dikaji ulang.

Investor pun khawatir keputusan Trump bisa memicu aksi balasan dari mitra dagang utama seperti China, Eropa dan negara tetangga Kanada dalam pukulan terhadap ekonomi global.

Kekhawatiran akan perang dagang yang berbahaya melampaui data ekonomi AS yang optimistis akan dipublikasikan pada hari Kamis, termasuk kenaikan indeks manufaktur ke level tertinggi 14 tahun.

Inflasi AS meningkat, sebagai indeks harga PCE, sebuah indikator inflasi yang mendasari, naik 0,3% pada Januari-kenaikan terbesar sejak Januari 2017. Pada tahun ini, indeks mencatat kenaikan 1,5%, sama seperti dua bulan sebelumnya.

Hasil US Treasury turun karena risiko perang dagang tampaknya menyingkirkan pertimbangan inflasi, sebuah tema utama yang menakut-nakuti pasar keuangan global awal tahun ini.

Di pasar mata uang, rebound dolar menyusul komentar bullish pada ekonomi A.S. dari Ketua Federal Reserve baru Jerome Powell. Euro melonjak kembali ke USD1,2271, setelah mencapai level terendah tujuh minggu di USD1,21545.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini