nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Agus Marto: Penguatan Dolar terhadap Rupiah Tak Akan Berlanjut

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 13 Maret 2018 20:14 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 13 20 1872273 agus-marto-penguatan-dolar-terhadap-rupiah-tak-akan-berlanjut-IJB1NU5UiY.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih terdepresiasi. Level terendahnya mencapai Rp13.800 per USD.

Meski demikian, Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan Rupiah bersifat tidak permanen. Pasalnya masih ada ketidakpastian apakah parlemen AS menyetujui keputusan Presiden Trump soal bea impor atau bea masuk baja dan alumunium.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS karena faktor eksternal. BI melihat bahwa sejak Februari sampai Maret banyak tekanan pada Rupiah.

"Ini ebih banyak pada peran dari pada eksteren dan kita sama-sama ikuti. Ada dua kondisi eksteren, pertama adalah memberikan kesan ekonomis Amerika Serikat dalam proses pemulihan dan ada kemungkinan Fed Fund Rate dinaikan lebih dari 3 kali," tuturnya, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (13/3/2018).

Faktor kedua, Presiden Trump keluarkan aturan terkait bea masuk untuk baja dan alumunium. Hal ini membuat sentimen positif yang kuat untuk USD dan kemudian mata uang lain terkena dampaknya.

"Tetapi saya lihat bahwa kondisi ini tetap secara year to date Rupiah depresiasi dikisaran 1,5%. Kalau ikuti 2 hari terkahir ini kondisi penguatan USD ternyata tidak terus berlangsung," ujar Agus.

Sebab, lanjut Agus, bila dilihat dari komunikasi bahwa kemungkinan dengan aturan bea masuk masih akan dibahas dan belum tentu dari senat dan parlemen AS mendukung. Jadi hal ini masih dalam kondisi berbeda.

"Kondisi kekuatan dolar itu tidak berketerusan. Yang kami ingin sampaikan dinamika di eksteren yang memang berdampak pada negara di dunia termasuk di Indonesia. Untuk di Indonesia tidak ada pergerakan, kita memang ada bagian dari sitem ekonomi dunia jadi pengaruh eksteren bisa berpengaruh," tuturnya.

Meski demikian, BI akan tetap menjaga stabilitas nilai tukar yang bergantung pada fundamental dan hubungan Rupiah dengan mata uang dunia baik.

"Fundamental kita kan inflasi terjaga dengan baik, neraca pembayaran positif dan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV menunjukan kondisi membaik. Jadi ungkapan disampaikan itu belum tentu sesuatu bisa pegangan, karena BI selama ini jaga stabilitas Rupiah," tandasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini