Aset Terbesar Perusahaan adalah Karyawan Cerdas

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 15 Maret 2018 13:46 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 15 320 1873135 aset-terbesar-perusahaan-adalah-karyawan-cerdas-Z9gzYPaYZ9.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Terus meningkatnya literasi dan kesadaran masyarakat Indonesia dalam berasuransi mendorong industri asuransi berlomba menelurkan produkproduk asuransi yang inovatif dan variatif.

Konsumen masa kini dan ke depannya akan semakin demanding, tak terkecuali konsumen asuransi. Hal ini disikapi AXA General Insurance (AXA GI) dengan terus berinovasi mengembangkan produk dan memikirkan segmentasi baru yang bisa disasar. AXA GI memiliki pengalaman luas dalam menyediakan ragam perlindungan asuransi umum mulai dari asuransi perorangan maupun asuransi bisnis. Chief Commercial Officer AXA GI Indonesia Kameswara Natakusumah mengatakan, selain mengembangkan produk baru, pihaknya juga senantiasa meng-improve produk-produk lama.

Dia juga memandang optimistis prospek pasar asuransi umum di Indonesia. Untuk melahirkan produk asuransi inovatif, juga dibutuhkan tim dengan kemampuan berpikir kritis dan cerdas. Karena itu, Kameswara sangat menghargai para karyawan muda yang penuh semangat dan smart sebagai aset berharga perusahaan yang layak dipertahankan. Apalagi kiat-kiatnya? Berikut hasil wawancara dengan Kameswara Natakusumah.

Bisa diceritakan awal karier Bapak hingga masuk ke dunia asuransi?

Saya terjun di dunia asuransi 21 tahun lalu. Saya mengawali karier di Asuransi Sinarmas, lalu Lippo General Insurance, dan sekarang AXA General Insurance. Waktu saya pertama kerja di asuransi lokal pada 1997 itu secara kebetulan atau tidak direncanakan, karena sebetulnya latar belakang pendidikan saya perbankan. Namun, saya tidak menyesal berkecimpung di dunia asuransi hingga saat ini. Misalkan ada yang menawari saya untuk ganti profesi, saya tidak mau.

Bagaimana Anda melihat perkembangan asuransi dulu dan sekarang?

Kalau dulu menjual asuransi lebih sulit dibandingkan saat ini karena masyarakat masih kurang memahami asuransi. Sekarang menjual asuransi lebih mudah karena masyarakat juga sudah mulai sadar, paham, dan semakin melek akan asuransi. Tinggal kreativitas dari perusahaan asuransi untuk menciptakan produk yang cocok sesuai kebutuhan dan budget mereka. Perusahaan asuransi harus lebih inovatif mengeluarkan produk-produk baru yang bisa menyasar market akan dibidik. Jadi, masyarakat tinggal memilih saja.

Bagaimana kesiapan AXA GI dalam menghadapi potensi persaingan bisnis lewat teknologi/digital?

Saat ini teknologi digital memang yang utama. Dalam menghadapi persaingan, beberapa hal penting dilakukan antara lain memberi kemudahan dalam bertransaksi, produk yang inovatif, harga premium yang pas, serta kemudahan pembayaran klaim. Di AXA GI, semuanya itu nanti akan terintegrasi melalui digital, terutama yang segmen ritel dan usaha kecil dan menengah (UKM).

Apa yang membedakan produk AXA GI dengan asuransi lain?

Kami sangat inovatif, jadi kami tidak pernah puas dengan satu produk. Setiap produk yang kami keluarkan, dalam dua atau tiga tahun, akan kami improve . Ini membedakan dengan produk lain. Kami selalu berpikir segmentasi baru, apa saja yang harus ditawarkan. Kembali pada prinsipnya untuk perlindungan nasabah. Jadi, kami bukan hanya sekadar menjual asuransi, tetapi memberikan semacam kekuatan kepada masyarakat agar mereka punya perlindungan.

Seperti apa perkembangan dan kinerja jalur distribusi AXA GI di Indonesia dan apa target yang ingin dicapai?

Jalur distribusi AXA GI sebetulnya masih sama antara dulu dan sekarang, yakni jalur distribusi direct marketing , keagenan, broker, bancassurance, dan distribusi alternatif. Namun, jumlahnya lebih banyak dibandingkan dulu. Khusus untuk agen, pada tahun lalu jumlahnya 900 agen dan tahun ini diharapkan bisa naik sekitar 20% atau mencapai 1.200 agen di seluruh wilayah Indonesia.

Apa tantangan dalam industri asuransi di Indonesia?

Tantangan terbesar itu membuat masyarakat mencintai asuransi. Bahkan, terkadang keluarga dekat, kerabat, atau orang di sekeliling kita, juga masih menjadi tantangan. Padahal asuransi itu untuk melindungi diri atau harta benda mereka. Asuransi itu wajib dan harus kita punya, karena itu yang memberikan kita proteksi. Tantangan tersebut sebenarnya membuat saya terus berkarya di industri asuransi. Saya ingin membuat masyarakat sadar akan pentingnya asuransi.

Lalu bagaimana cara AXA GI menyikapinya?

Kami selalu mendukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk literasi asuransi. Tahun lalu, kami aktif roadshow memberikan pemahaman kepada masyarakat di lima kota. Tahun ini kami juga akan aktif memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

Apa harapan bapak terhadap industri asuransi umum di Indonesia?

Dengan melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini, kami ingin tumbuh bersama-sama dengan industri sektor lain. Saya juga melihat industri asuransi akan tetap tumbuh positif. Diharapkan asuransi menjadi pilihan utama bagi masyarakat atau UKM maupun individu dan sebagai bagian dari ekonomi. Apalagi kalau melihat Indonesia saat ini temanya ‘pembangunan infrastuktur’ ataupun proyek jalan di manamana, AXA GI ingin terlibat di dalamnya dengan memberikan proteksi. Saya juga berharap pendidikan asuransi bisa digalakkan. Kalau bisa masuk kurikulum di tingkat SMA atau sederajat. Pasalnya, edukasi asuransi ini sangat diperlukan sejak dini agar generasi selanjutnya sudah melek dan sadar akan pentingnya memproteksi diri.

Apakah ada rencana ekspansi kantor cabang di kota lain?

Saat ini kami punya tujuh kantor cabang di lima kota, yaitu Semarang, Surabaya, Medan, Bandung, dan Jakarta. Terkait target penambahan kantor cabang, sebenarnya keberadaan kantor fisik sudah tidak terlalu relevan. Pasalnya, semua bisa dilakukan melalui teknologi. Namun, karena sister company, kami yakni, AXA Indonesia juga wilayahnya banyak sehingga tidak tertutup kemungkinan berkolaborasi dengan AXA Indonesia dan entitas AXA lainnya untuk melebarkan jalur distribusi.

Sebagai pemimpin perusahaan, apa filosofi Bapak dalam leadership ? Gaya kepemimpinan seperti apa yang Bapak terapkan?

Ketika kita semangat menolong orang, maka segalanya akan menjadi lebih mudah. Saya ingin mencari dan mengajak orangorang yang smart. Jadi, kalau kita punya tim atau member yang smart, maka akan memberi kemudahan pada kita. Selain itu, kita juga akan banyak belajar dari mereka. Generasi saat ini semakin banyak belajar. Karyawan saya juga banyak yang masih punya semangat tinggi. Jadi, ketika kita punya aset (karyawan yang pintar, smart atau top performance ) itu justru harus dipertahankan. Sebab biasanya, orangorang seperti itu punya risiko akan “diambil” oleh perusahaan lain. Nah, di situ fungsi leader untuk bisa menjaga keharmonisan, keep them happy, lebih nyaman, dan sebagainya. Saya senang karyawan mengeluarkan pendapat. Kita diskusi mana yang terbaik.

Kalau leadership zaman dulu itu seorang pemimpinnya akan bicara “Saya paling benar sendiri”. Saya tidak begitu. Saya ingin karyawan mengutarakan apa yang mereka pikirkan, karena saya tidak bisa membaca pikiran mereka. Jadi, lebih baik kita debat dan diskusi mencari mana yang terbaik. Kepemimpinan itu adalah saling melengkapi antara young generation dan old generation, karena generasi muda biasanya memiliki ide-ide cerdas. Di sisi lain, kita punya wisdom dan experience yang jadi penyeimbang.

Bagi Bapak, siapa sosok panutan atau yang menginspirasi?

Ibu saya. Beliau sangat berpengaruh di kehidupan saya. Meskipun sudah masuk usia pensiun, beliau masih aktif mengajar, bahkan masih hadir di acara seminar atau konferensi. Beliau sepertinya tidak pernah merasa lelah. Padahal terkadang dalam hidup ada masanya kita lelah atau bad mood, tetapi beliau selalu bilang sama saya: “Lihat anak dan istrimu. Jangan pernah kamu lelah. Kamu kerja untuk keluarga dan orang di sekitar. Kita harus bisa bantu mereka.” Jadi, ibu saya tidak pernah berpikir untuk diri sendiri, ketika dia bekerja ya bekerja untuk orang lain. Ini membuat hidup lebih berarti.

Ada pengalaman berkesan selama berkarier?

Waktu tahun 1998 terjadi kerusuhan di Lhokseumawe, Aceh. Pada saat itu saya baru saja lulus kuliah dari luar negeri, lalu ditempatkan di Medan. Pada saat kerusuhan di Lhokseumawe saya ditugaskan ke sana. Dari situ saya melihat, ternyata Indonesia membutuhkan asuransi karena dulu kan tidak ada yang diasuransikan. Jadi, saya berpikir bahwa saya harus tetap di asuransi. Kita perlu aktif dalam sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya asuransi. Filosofi saya, bukan untuk berjualan, melainkan memberdayakan masyarakat untuk menjalani hidupnya dengan lebih baik.

Apakah Bapak punya mimpi yang masih ingin diwujudkan?

Saya ingin sekali jika nanti pensiun bisa kembali ke kampus, karena ilmu itu yang akan saya tularkan kepada generasi berikutnya. Saya sangat ingin meneruskan sekolah doktor. Dengan terus belajar, ilmu kita akan selalu bertambah. Kalau sudah pensiun lebih kepada berbagi pengalaman dan pengetahuan. (Kunthi fahmar sandy/KoranSindo)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini