Ekonomi Pesantren Diperkuat Toko Ritel

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 10 April 2018 11:00 WIB
https: img.okezone.com content 2018 04 10 320 1884479 ekonomi-pesantren-diperkuat-toko-ritel-JbDz5apRnp.jpeg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Kementerian Perdagangan mendukung gagasan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) untuk meningkatkan ekonomi ‘umat’ melalui penguatan peran toko ritel di lingkungan pondok pesantren seluruh Indonesia. 

Kemendag juga mendukung gagasan pembukaan pusat pelatihan untuk pengelola toko-toko di lingkungan pondok pesantren. Untuk mewujudkannya, Kemendag akan menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) untuk bekerja sama dengan Hipmi.

Menurut rencana, akan ada 10 toko ritel di lingkungan pesantren diberi nama Ummart di pondok pesantren wilayah Jawa Timur yang akan diresmikan langsung Presiden Joko Widodo pada Mei mendatang. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, para pengusaha terutama di ritel modern harus saling bahu membahu untuk menopang tumbuh dan berkembangnya usaha ritel tradisional.

Baca Juga: Sri Mulyani: Indonesia Akan Jadi Negara yang Mempengaruhi Dunia

Menurut dia, kegiatan itu merupakan bagian dari kebijakan pemerintah dalam mengatasi masalah ketimpangan di sekitar sektor ritel. “Selalu terjadi kesenjangan antara ritel modern dengan yang tradisional, di mana sebagian besar berada di daerah pesantren. Kemendag bersama Aprindo telah melakukan langkah awal, bekerja sama dengan IndoGrosir, Alfamart, Hypermart, dilanjutkan dengan anggota Aprindo yang lain, serta didukung perbankan,” ujarnya di Jakarta. Enggar mengatakan, para santri juga akan dibekali pelatihan dalam mengelola dan berbisnis toko ritel. Selain itu, juga akan memberi memfasilitasi ban tuan perbankan untuk kredit modal usaha para santri dalam membuka Ummart di pondok pesantren mereka.

Baca Juga: Kejar Jadi 10 Negara Besar, Presiden Jokowi: Jangan Malas-malasan

“Pola kerja samanya ada toko yang dibuka dari nol, ada pula warung yang akan diperbaiki. Barang-barangnya akan di suplai dengan harga jual sama dengan harga jual di pasar ritel modern sehingga perolehannya akan sama,” ungkapnya.

Menurut Enggar, dengan pola tersebut akan menimbulkan persaingan sehat. Selama ini kehadiran toko tradisional dan warung belum bisa menyaingi jaringan toko ritel dengan sistem memadai. “Sasarannya bukan hanya melayani pesantren karena itu terlalu kecil secara ekonomi. Letaknya kalau bisa di luar pesantren, tapi masih di kawasan pesantren,” katanya.


Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey menyambut baik program ini sebagai wujud meningkatkan kesejahteraan pondok pesantren, khususnya di Jawa Timur. “Kami melakukan 3S hal sebagai bentuk kerja sama, yaitu sistem akan kami support karena sistem ritel modern adalah sistem yang baku, SOP mulai dari barang yang diterima sampai dijual, dan standar pelayanan,” ujarnya.

Roy menuturkan, standar pelayanan yang diberikan merupakan bagian dari vokasi, literasi, dan edukasi sehingga setiap santri yang membantu di ritel modern memiliki standar dan kemampuan sama. “Seperti layaknya menjalankan suatu ritel modern. Mereka bisa berlaku layaknya profesional,” tuturnya. 

Baca Juga: Sektor Jasa Mulai Dominasi Perekonomian Nasional

Ketua Umum BPD Hipmi Jawa Timur Mufti Anam mengatakan, di pesantren sebenarnya sudah ada koperasi namun sulit bersaing karena ketersediaan produk dan distribusi logistik terbatas. “Kedua, ada kecenderungan konsumen ketika datang ke toko, mereka tidak mau membeli karena pro duknya tidak lengkap. Atas inisiasi Kemendag, kami kerja sama dengan ritel modern sehingga lahirlah program Ummart,” ungkapnya. Mufti menambahkan, untuk pilot project saat ini ada 10 toko ritel Ummart di wilayah Jawa Timur. Dia menargetkan 100 Ummart pada 2018-2019. 

(Oktiani Endarwati)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini