JAKARTA - Lion Air Group telah resmi melakukan pembelian 50 pesawat Boeing 737 MAX 10 dengan nilai USD6,24 miliar atau setara Rp85,4 triliun (kurs Rp13.700 per USD). Adapun peresmian pembelian ini dilakukan dengan penandatanganan kerja sama di Jakarta.
Presiden dan CEO Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, pembelian ini merupakan kelanjutan komitmen pembelian Boeing dan Lion Air Group yang telah dilakukan sebelumnya di Paris Air Show 2017
Untuk mengetahui lebih lanjut, Okezone Finance telah merangkum fakta-fakta terkait Lion Air Group membeli 50 pesawat Boeing 737 MAX 10, Minggu (15/4/2018).
1. Lion Air Group Membeli 50 Pesawat Boeing 737 MAX 10
Lion Air Group membeli 50 pesawat Boeing 737 MAX 10 dengan nilai USD6,24 miliar atau setara Rp85,4 triliun (kurs Rp13.700 per USD). Adapun peresmian pembelian ini dilakukan dengan penandatanganan kerja sama di Jakarta.
"Pesawat ini akan memberikan keuntungan lebih karena memiliki tingkat efisiensi tinggi dari segi bahan bakar, biaya operasional dan sangat sesuai dengan perkembangan armada yang semakin canggih," ungkap Presiden dan CEO Lion Air Group Edward Sirait di Hotel Grand Hyatt, Selasa (10/4/2018).
Menurutnya, Boeing 737 MAX 10 merupakan kombinasi sempurna dari jet lorong tunggal dan akan menjadi pesawat yang ideal. Pasalnya Boeing 737 MAX 10 akan melengkapi MAX 8 dan MAX 9 yang sudah dioperasikan pihaknya.
Senior Vice President Asia Pacific and India Sales Boeing Commercial Airplanes Dinesh Keshar mengatakan, sangat senang dengan langkah Lion untuk merealisasikan pembelian pesawat terbaru ini.
"Dengan 737 MAX 10 ini, Lion Air akan memiliki serangkaian pilihan armada yang efisien dan andal untuk mengoptimalkan jaringannya dalam melayani pelanggan sekaligsu meningkatkan keuntungan," jelasnya.
2. Beli Pesawat Boeing 737 MAX 10 Utang ke Bank Amerika?
Presiden dan CEO Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, semua total dana untuk pembelian ini dipinjam ke bank di Amerika Serikat. Artinya untuk membeli pesawat ini, Lion melakukannya dengan berutang di bank.
"Dana dari perbankan, semua dari Exim Amerika. Totalnya itu dari 50 pesawat itu USD6,24 miliar," ungkapnya di Grand Hyatt, Selasa (10/4/2018).
Namun, dia menjelaskan, kesepakatan dengan bank Exim Amerika masih bisa berubah. Karena pihaknya akan melihat lagi mana bank-bank yang bisa memberikan pinjaman dengan bunga yang lebih murah, tapi yang pasti saat ini masih dengan Bank Exim Amerika.
"Jadi jangan pikir kita pinjam dari bank dalam negeri. Kita didanai Bank Exim Amerika saat ini kesepakatannya, nanti bisa berubah, 100%. Bunganya rendah, saya tidak bisa mengatakan persisnya berapa, yang jelas murah kan kredit ekspor. Semuanya. Kita bisa ganti kalau ada yang lebih murah itulah negosiasi yang kita sepakati, jadi ada kepastian pendanaan," jelasnya.
3. 50 Pesawat yang Didatangkan Bertahap
Presiden dan CEO Lion Air Group Edward Sirait menjelaskan 50 pesawat baru ini akan datang secara bertahap mulai dari tahun 2020 dan secara penuh akan datang di 2023. Dengan pesawat baru ini, maka Lion saat ini telah membeli lebih dari 400 pesawat sejak pertama kali berdiri.
"Kita ada 234 airbus yang sudah diorder, yang engine-nya kemarin kita tandatangan, inikan kita tambah 50 lagi dari 408 yang kita menjadi 458. Kami melihat armada ini harus siap kita operasikan," kata dia.
Sementara itu, semua pesawat ini setelah datang nanti akan langsung dioperasikan. Karena pada tahun 2030 nanti penumpang pesawat akan semakin meningkat pesat.
"Enggak boleh menunggu, harus dioperasikan. Kalau prediksi kita 2030 penumpang Indonesia itu sudah 300 juta lebih, butuh pesawat 1.000 lebih. Berartikan enggak ada yang nganggur," tukasnya.
4. Lion Air Group Kembali Buka Sejarah Baru
Boeing dan Lion Air Group pada 21 Maret 2018 merayakan Boeing 737 MAX 9 pertama beregistrasi HS-LSH di dunia. Lion Air Group kembali menorehkan tonggak sejarah menjadi operator pertama di dunia.
Pesawat akan dioperasikan oleh Thai Lion Air untuk memperkuat network yang sudah ada sekaligus akan meluncurkan beberapa rute domestik, regional atau internasional.
"Boeing 737 MAX 9 sangat cocok untuk bisnis kami yang sedang berkembang di Thailand," kata CEO and Chairman Thai Lion Air Capt Darsito Hendro Seputro dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (22/3/2018).
"Boeing 737 MAX 9 akan menjadi salah satu kekuatan armada kami dalam menambah kapasitas angkutan penumpang dan kargo serta sejalan ekspansi dengan membuka penerbangan baru ke Bangladesh, China dan India," sambungnya.
Lion Air Group merupakan pelanggan pertama Boeing dalam peluncuran perdana Boeing MAX 9. Grup perusahaan yang berbasis di beberapa negara kawasan Asia Tenggara ini juga menjadi operator pertama yang menambahkan Boeing 737 MAX 8 ke dalam layanan operasional.
5. Lion Air Group Miliki 480 Pesawat
Lion Air Group baru saja membeli 50 pesawat baru untuk penambahan pengoperasian pesawat yang sudah ada saat ini. Dengan bertambahnya pesawat ini, maka Lion Air akan mempunyai 480 pesawat.
Dengan penambahan ini, maka muncul pertanyaan apakah Lion dipastikan tidak delay lagi? Pasalnya, Lion Group terkenal dengan jadwal pemberangkatan pesawat yang sering terlambat dan mendapatkan banyak protes dari masyarakat.
"Saya bukan Tuhan. Gini lho, delay-nya itu sebatas toleransi mana. Karena tidak ada yang bisa 100%. Karena sebenarnya dalam penerbangan, teori yang saya tau 15% itu enggak mungkin. Karena ada faktor cuaca, catatan lain, kerusakan yang tidak diduga. Tinggal bagaimana me-manage itu," ungkap Presiden dan CEO Lion Air Group Edward Sirait di Grand Haytt, Selasa (10/4/2018).
6. Alasan Lion Air Borong 50 Pesawat
CEO Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, penambahan pesawat ini akan digunakan untuk rute jauh karena lebih besar. Nantinya akan difokuskan untuk rute Internasional dan untuk domestik yang memiliki jarak tempuh jauh seperti Medan-Papua.
Menurutnya, nantinya fokus ekspansi tidak bisa hanya internasional atau domestik saja tapi harus keduanya. Lion Air akan melihat mana daerah yang paling banyak dan memungkinkan infrastrukturnya untuk menampung pesawat dengan kapasitas besar.
"Dua-duanya, menjadi modal traveler nantikan multi leg. Dia dari India ke Kuala Lumpur ke Bali ke Jogja dan mereka balik lagi, lalu dari China ke Bangkok ke Singapura ke Denpasar dan balik lagi sesuai rute itu sampai ke negaranya. Jadi sudah multi leg enggak bertahan di satu daerah saja, jadi multi leg, karena bebas visa, kemudahan transportasi dan murah, kan membuat traveler itu hidup," jelasnya.
Selain itu, dia menegaskan bahwa pesawat 737 MAX 10 ini jauh lebih hemat dari sebelumnya. Hemat dari sisi bahan bakar dan juga waktu tempuh juga lebih tahan lama.
"Pesawat ini katanya lebih hemat 20% bahan bakarnya dari tipe sebelumnya. Bisa terbang nonstop juga selama 7 jam-8 jam," tukasnya.
(ulf)
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.