Kesuksesan novelnya memang langsung berpengaruh pada karier Kevin. Awal April lalu, dia menjadi bagian Class of 2018 Honorees dari Robert Chin Foundation yang menjadi lembaga bergengsi untuk pemberdayaan komunitas yang beragam di dunia.
Dikutip Asian Fortune, Kevin termasuk dalam empat orang yang menjadi inductee, semacam duta atau anggota kehormatan, baru di Asian Hall of Fame yang akan digelar pada 5 Mei mendatang di Fairmont Olympic Hotel di pusat kota Seattle, Amerika Serikat.
Sementara itu, The Hollywood Reporter juga memasukkan nama Kevin sebagai salah satu dari lima penulis yang patut diamati (Five Writers to Watch ) dalam daftar Penulis Paling Kuat di Hollywood pada 2014. Dalam buku trilogi terakhirnya, Rich People Problems, Kevin menulis secara maksimal dan total.
Dia mengungkapkan keanehan orang superkaya dan membuat pembacanya ikut hanyut, terkadang dengan perasaan simpati, dan kadang-kadang dengan gembira. Dalam bukunya, Kevin juga selalu menyebutkan merek atau nama desainer kelas atas dalam mendeskripsikan karakter-karakter dalam ceritanya. Mulai dari pakaian, perhiasan, seni, minuman anggur, hingga furniturnya. Dia juga memiliki pengetahuan ensiklopedis tentang karakteristik kalangan jetset dan mampu memunculkan karakter ini dengan mumpuni di bukunya.
Lahir dari keluarga kaya
Kevin mengaku novel Crazy Rich Asians terinspirasi dari masa kecilnya di Singapura. Bab pertama terinspirasi oleh sebuah puisi yang telah ditulisnya bertahun-tahun sebelumnya yang berjudul Singapore Bible Study. Dikutip TheMercury, dia sebenarnya tumbuh di dunia seperti yang diuraikannya di novel. Dia adalah putra dari seorang taipan keuangan Singapura. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di dalam latar yang dia ceritakan di bukunya. Lahir dan dibesarkan di Singapura, Kevin lantas bermigrasi ke Amerika Serikat pada usia 11 tahun.
Ayah Kevin adalah sosok yang tergila-gila dengan Negeri Paman Sam (AS) dan memindahkan keluarganya ke pinggiran kota Houston untuk beberapa waktu. Di sini Kevin kecil mengenyam pendidikan di sekolah umum sebelum pindah ke New York untuk belajar seni. Setelah lulus, dia mencari pekerjaan sebagai konsultan kreatif. Termasuk bekerja dengan Martha Steward Living dan majalah daring Andy Warholís Interview . Meski hidup dalam lingkungan kaya, dia bersikeras bahwa dirinya tidak termasuk dalam "daftar orang kaya di Asia" seperti yang digambarkan dalam bukunya.
Dikutip Straits Times, Kevin juga menulis buku ini untuk menjadi sarana penyembuhan akibat kematian ayahnya pada 2010 setelah pertarungan panjang melawan kanker. Kevin sempat berhenti bekerja selama 18 bulan dari pekerjaannya sebagai konsultan kreatif untuk merawat sang ayah. Kevin memang diketahui memiliki perusahaan konsultasi kreatif yang menghasilkan proyek-proyek visual untuk klien profil tinggi seperti New York Times, TED.com , Elizabeth Taylor, dan Oprah Winfrey. (Susi Susanti)
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.