Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hitung-hitungan Bappenas soal Keuntungan Jadi Tuan Rumah Asian Games

Dani Jumadil Akhir , Jurnalis-Senin, 30 April 2018 |07:56 WIB
   Hitung-hitungan Bappenas soal Keuntungan Jadi Tuan Rumah Asian Games
Foto: Keuntungan Jadi Tuan Rumah Asian Games (Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Penyelenggaraan Asian Games ke-18 yang akan berlangsung pada 18 Agustus-2 September 2018 mendatang di Jakarta dan Palembang (Sumatera Selatan), tidak hanya berdampak secara ekonomi, tapi juga nonekonomi.

Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, dampak dari Asian Games meningkatkan pride atau kebanggaan dari Indonesia, meningkatkan kohesi sosial, mendorong masyarakat untuk melakukan olahraga, serta yang tidak kalah penting yaitu meningkatkan profil Indonesia di mata internasional.

"Sudah merupakan hal yang lumrah dan wajar bahwa banyak negara yang profilnya naik setelah berhasil menjadi tuan rumah event internasional. Contoh paling jelas adalah Korea Selatan," kata Bambang di Jakarta, Senin (30/4/2018).

 Baca Juga: Asian Games Ditaksir Beri Dampak Langsung Rp45 Triliun pada Indonesia

Bambang menjelaskan, pada tahun 1986 Korea Selatan menjadi tuan rumah Asian Games ke-10 di Seoul. Dua tahun kemudian (1988) negeri Ginseng ini menjadi penyelenggara Olimpiade Musim Panas ke-24 di kota yang sama. Korea Selatan menyadari bahwa menjadi tuan rumah event keolahragaan internasional merupakan sarana yang efektif untuk menaikkan citra negaranya.

Korea Selatan menunjukkan diri kembali sebagai tuan rumah Asian Games ke-14 tahun 2002 di Busan, dan secara bersamaan tahun 2002 menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Jepang. Selanjutnya, negeri Ginseng itu menjadi tuan rumah Asian Games ke-17 kembali pada tahun 2014 di Incheon.

“Ini contoh suatu negara yang giat memanfaatkan event internasional untuk meningkatkan profil negara dan ekonominya dengan berbagai rangkaian event internasional di negaranya,” tutur Bambang.

 

Contoh sukses lainnya, kata Bambang, adalah Olimpiade Musim Panas ke-27 di Sydney Australia yang bisa mendorong ekonomi New South Wales meningkat sampai USD490 juta per tahun selama 12 tahun masa persiapan dan sesudah event.

"Jadi mereka ambil enam tahun ke belakang dan enam tahun ke depan. Periode 1994-2000 adalah masa persiapan, membangun stadion, infrastruktur, berbagai fasilitas pendukung, promosi dan seterusnya dan kemudian pasca event adalah masa pemanfaatan stadionnya, peningkatan wisatawan ke Australia maupun Sydney," jelasnya.

Baca Juga: Sandiaga Uno Minta UMKM Dilibatkan Selama Asian Games 2018

Setelah itu, dlihat dari present value dampak olimpiade terhadap ekonomi Australia mencapai USD6,5 dan lapangan pekerjaan meningkat 5.300 di New South Wales dan di Australia Kota rata-rata 7.500 per tahun selama 12 tahun.

Cerita sukses lainnya, Olimpiade Musim Panas ke-30 di London pada tahun 2012 karena bisa berkontribusi terhadap PDB Inggris sampai USD16,5 miliar selama 12 tahun periode. Komposisinya 82% dari free event, 12% dari pariwisata, 6% dari pengeluaran langsung.

“Jadi aktivitas free event dan konstruksi itu adalah bagian terbesar dari olimpiade di London, ditambah pariwisata dan direct spending, turis meningkat 10,8 juta pada periode 2005-2017,” tutur Bambang.

 

Bambang berharap pasca pelaksanaan Asian Games ke-18 di Jakarta dan Palembang, Indonesia tidak hanya memperoleh dampak ekonomi tapi juga punya manfaat nonekonomi seperti yang dialami Korea Selatan, Australia dan juga Inggris.

Bappenas memperkirakan dampak langsung pengeluaran peserta dan pengunjung Asian Games 2018 mencapai Rp3,6 triliun dengan perincian pengeluaran sebesar Rp2,5 triliun di Jakarta dengan konsentrasi persebaran peserta dan pengunjung sebanyak 70%, dan Rp1,1 triliun di Palembang dengan konsentrasi persebaran peserta dan pengunjung sebanyak 30%

Diestimasikan, 88% pengeluaran berasal dari penonton dan wisatawan, diikuti 4,67% pengeluaran oleh atlet, 3,96% pengeluaran awak media, 2,34% pengeluaran officials, dan 0,77% pengeluaran sukarelawan. Akomodasi diperkirakan menjadi komponen pengeluaran terbesar yang mencapai Rp1,3 triliun, sementara komponen terbesar kedua adalah transportasi sebesar Rp640 miliar, makanan dan minuman sebesar Rp628 miliar, pengeluaran belanja mencapai Rp560 miliar dan pengeluaran hiburan sebanyak Rp280 miliar.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement