Share

Laba Naik, OJK Sebut 88% Perusahaan Pembiayaan RI dalam Kondisi Sehat

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 21 Mei 2018 17:22 WIB
https: img.okezone.com content 2018 05 21 320 1900885 laba-naik-ojk-sebut-88-perusahaan-pembiayaan-ri-dalam-kondisi-sehat-JAtkwiAreA.jpg Foto: Perusahaan Pembiayaan dalam Kondisi Sehat (Yohana/Okezone)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim industri pembiayaan di Indonesia hingga akhir Maret 2018 dalam kondisi yang baik. Hal ini terlihat dari persentase perusahaan di industri pembiayaan yang sehat lebih besar ketimbang perusahaan yang tidak sehat.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) II Moch. Ihsanuddin menyebutkan, ada 5 perusahaan pembiayaan yang mendapatkan status pembatasan kegiatan usaha atau PKU. Kelimanya yakni PT Asia Multidana, PT Capital Link Finance, PT PANN Pembiayaan Maritim, PT Kembang 88 Multifinance dan PT Sun Prima Nusantara Pembiayaan.

Di sisi lain, memang terdapat 8 perusahaan pembiayaan dalam kondisi terkena sangki ringan maupun berat. Kendati demikian, dia enggan menyebutkan 8 perusahaan tersebut.

"Tidak boleh dipublikasikan (jika yang 8 berstatus sanksi), kan sudah ada SOP-nya. Kalau PKU tidak apa dipublikasikan, dan kalau sudah dicabut diumumin lagi," ujarnya dalam konerensi pers di Gedung OJK, Jakarta, Senin (21/5/2018).

 

Kendati demikian, dibanding dengan 191 perusahaan pembiayaan saat ini, sebanyak 88% dalam kategori sehat dan sehat sekali. Hal ini kata dia, menunjukkan industri pembiayaan masih dalam kondisi yang baik. "Dari 191 perusahaan ada yang keseleo 5 ya lumrah lah dalam situasi dan kondisi begini. Jadi tidak usah khawatir," ucapnya.

Di sisi lain, kondisi sehat dari industri ini juga terlihat pertumbuhan yang cukup signifikan, baik dari sisi aset maupun profitabilitas pembiayaan. Hingga Maret 2018, OJK mencatat dari sisi aset industri pembiayaan mengalami pertumbuhan 7,64% yoy, meningkat Rp34,4 menjadi sebesar Rp483,92 triliun. Sementara laba tercatat meningkat sebesar 2,56% yoy menjadi Rp3,74 triliun.

Di mana meningkatkan return on asset (ROA) 4,36% dan return on equity (ROE) menjadi 13,20%. Adapun piutang pembiayaan mengalami peningkatan 6,08% atau senilai Rp24,02 triliun, meningkat dengan nilai outstanding Rp419,2 triliun.

 

Kemudian sisi piutang pembiayaan, juga mengalami peningkatan 6,08% atau senilai Rp24,02 triliun, menunjukan peningkatan dengan nilai outstanding Rp419,2 triliun. "Artinya semuanya mengalami growth," jelasnya.

Di sisi lain, non-performing financing (NPF) memang mengalami kenaikan. Peningkatan terjadi tipis dari sisi NPF gross, di mana pada Maret 2017 sebesar 3,16% sedangkan Maret 2018 sebesar 3,25%. Sedangkan NPF nett tercatat 1,17% "Jadi ini naiknya tidak terlalu banyak dan ini dialami seluruh industri yang menyalurkan pembiayaan," ujarnya.

Maka, berdasarkan data-data tersebut, menurut Ihsanuddin, industri pembiayaan masih terus mengalami peningkatan dan kondisi yang baik, meski beberapa perusahaan mengalami permasalahan. "Dari data-data update itu ternyata memberi gambaran ke kita bahwa secara industri perusahaan pembiayan masih cukup baik," pungkasnya.

 

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini