Rupiah Rp14.400, Bos OJK: Hanya Sementara Nanti Menguat Lagi

Inews, Jurnalis · Jum'at 29 Juni 2018 14:46 WIB
https: img.okezone.com content 2018 06 29 20 1915672 rupiah-rp14-400-bos-ojk-hanya-sementara-nanti-menguat-lagi-vIvN2M2Oew.jpg OJK memproyeksikan kalau pelemahan Rupiah hanya sementara. (Foto: ant)

JAKARTA - Kurs Rupiah sempat menyentuh level Rp14.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin meski hari ini mencoba menguat.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mengatakan, depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap greenback dalam beberapa minggu terakhir ini disebabkan faktor global, termasuk tensi perang dagang antara AS dan mitra dagang utamanya yang meningkat. Dengan begitu, dia menilai, pelemahan tersebut masih wajar.

Ketua OJK Wimboh Santoso: Sektor Jasa Keuangan Indonesia hingga Akhir 2017 Masih Stabil

 “Ya tidak ada faktor domestik. Respons terhadap berbagai kejadian luar negeri saja," katanya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (29/6/2018).

Baca Juga : Rupiah Tak Sendirian, Mata Uang Argentina hingga Rusia Juga Terjungkal

Hingga sesi siang, kurs Rupiah bergerak menguat dan mulai menjauhi level Rp14.400 per dolar AS di pasar spot. Mengutip data Yahoo Finance, Rupiah diperdagangkan level Rp14.358 per dolar AS, naik 27 poin atau 0,19 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp14.385 per dolar AS.

Wimboh beranggapan melemahnya Rupiah tidak akan berlangsung lama karena kurs domestik bergerak jauh melewati nilai fundamentalnya. “Ini sementara, kalau sementara Rupiah bisa menguat lagi," ujarnya.

Sempat Sentuh Rp14.200 per Dolar AS, Rupiah Ditutup Menguat 0,53%

Bank Indonesia (BI) sebelumnya memberi sinyal kuat untuk menaikkan kembali suku bunga acuannya pada Juni 2018 untuk menjaga stabilitas Rupiah.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Pieter Abdullah Redjalam mengatakan, jika BI merespons dengan menaikkan suku bunga acuannya, maka hal tersebut sudah sesuai dengan kondisi pasar. Pasalnya, setelah Amerika Serikat (AS) menaikkan FFR, nilai tukar Rupiah sempat melemah hingga di atas Rp14.200 per dolar AS.

Baca Juga : 4 Analisa 'Terbakarnya' Pasar Keuangan, Situasi Penuh Ketidakpastian

"Tidak, justru yang dilakukan adalah sesuai kondisi pasar. Justru akan menimbulkan kepanikan kalau kebijakan BI tidak sesuai eskpektasi pasar," kata Pieter.

Ketua OJK Wimboh Santoso: Sektor Jasa Keuangan Indonesia hingga Akhir 2017 Masih Stabil

Melihat hal tersebut, ia yakin BI akan mempertimbangkan respons pasar untuk menaikkan suku bunga acuannya. Sebab, akan menimbulkan risiko besar jika BI mempertahankan suku bunganya di 4,75 persen.

"Menimbang respons pasar seperti ini saya yakin BI tidak mau mengulang kesalahan yang lalu. Akan terlalu berisiko kalau BI tidak menaikkan suku bunga saat RDG minggu depan," ucapnya. (Rahmat Fiansyah)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini