Rupiah Tak Sendirian, Mata Uang Argentina hingga Rusia Juga Terjungkal

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 29 Juni 2018 13:36 WIB
https: img.okezone.com content 2018 06 29 278 1915631 rupiah-tak-sendirian-mata-uang-argentina-hingga-rusia-juga-terjungkal-2r1RqSWgg9.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Perang dagang antara Amerika Serkat (AS) dengan China yang kian memanas berdampak pada pelemahan sejumlah mata uang dunia, termasuk Rupiah.

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus terdepresiasi menyentuh level Rp14.400 per USD. Pada perdagangan spot exchange pagi ini, Jumat (29/6/2018) Rupiah dibuka melemah 18 poin atau 0,13% menjadi Rp14.403 per USD.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsi menyatakan, Rupiah memang mengalami imbas dari gejolak ekonomi global, kendati demikian kondisi Mata Uang Garuda ini jauh lebih baik ketimbang negara emerging market lainnya.

Rupiah Tak Berisiko Melemah ke Level Rp15.000 per Dolar AS 

"Isu perang dagang itu benar-benar menjadi perhatian sektor global, semua pasar bahkan terkoreksi. Kita bukan yang terburuk," ujar Lana kepada Okezone, Jumat (29/6/2018).

Dia menjelaskan, depresiasi terdalam dialami oleh negara Argentina dan Turki. Di mana sejak Januari hingga saat ini (year to date) mata uang Argentina terdepresiasi 32%, disusul Turki sebesar 18%. Sementara, mata uang Brasil terdepresiasi 14%, Rusia sebesar 9%, India sebesar 7,7%, Filipina sebesar 6,7%, serta Indonesia sebesar 5,7%.

"Rusia, negara yang sekarang lagi ada ajang bola dunia saya terdepresiasi. Ajang bola seluruh dunia itu kan mestinya akan positif, tapi ini terdepresiasi 9%. Kita (Rupiah) hanya 5,7%" katanya.

Sempat Sentuh Rp14.200 per Dolar AS, Rupiah Ditutup Menguat 0,53% 

Sementara itu, mata uang Singapura juga turut terdepresiasi 2,4%, Thailand sebesar 1,6%, juga Hong Kong sebesar 0,4%.

"Hong Kong itu jarang sekali depresiasi. Biasanya dolar AS menguat, dolar Hong Kong menguat, tapi ini melemah. 0,4% itu artinya pelemahan yang besar buat mata uangnya," katanya.

Melihat kondisi pelemahan yang dialami negara-negara lainnya, menurut Lana, adalah hal yang wajar Rupiah melemah. Pasalnya, tak hanya mata uang negara berkembang tetapi mata uang negara maju pun ikut tertekan.

"Semua mata uang memang melemah, kecuali dolar AS yang menguat. Paling buruk Argentina dan Turki, sehingga yah memang kita harus melemah, mata uang lainnya saja melemah," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini