nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemerataan Ekonomi Tak Lagi Hanya Efek Samping Pembangunan

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Selasa 17 Juli 2018 08:14 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 07 17 320 1923291 pemerataan-ekonomi-tak-lagi-hanya-efek-samping-pembangunan-1KdQh8FR0m.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Pemerataan tidak boleh lagi dilihat sebagai efek samping pembangunan. Justru sebaliknya, pemerataan harus menjadi mainstream dari strategi pembangunan. Hal ini diungkapkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang.

Menurut Bambang, jangan sampai pembangunan berorientasi pada pertumbuhan dulu, setelah itu baru dicari jalan atau strategi agar pertumbuhannya lebih merata, lebih inklusif.

"Jadi seolah-olah pemerataan baru datang belakangan. Saat ini mindset pembangunan harus berubah. Jika pemerataan ingin dijamin lebih baik, sejak awal perlu direncanakan strategi bahwa pemerataan sudah harus menjadi target pembangunan," kata Bambang dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (17/7/2018).

 

Bambang menambahkan, jangan sampai kegiatan pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan malah membuat pemerataan semakin memburuk sehingga membuat kita panik mencari cara mengatasinya.

"Oleh karena itu, agar kita tidak terlalu banyak membuang-buang energi mengatasi kesenjangan wilayah akibat pembangunan yang terlalu fokus pada pertumbuhan, sebaiknya aspek pemerataan sudah harus menjadi mainstream pembangunan. Tidak lagi hanya sekadar efek samping pembangunan," imbuhnya.

 

Sebelumnya, dalam acara Indonesia Development Forum (IDF) 2018, Menteri Bambang mengatakan, pembangunan sosial dan ekonomi yang tidak merata antar wilayah merupakan salah satu tantangan utama pembangunan Indonesia. Pertumbuhan ekonomi selama dua dekade terakhir masih terkonsentrasi di pulau Jawa, yang berkontribusi sekitar 58 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Di sisi lain, pembangunan sosial dan ekonomi di luar pulau Jawa, khususnya bagian timur Indonesia mengalami ketertinggalan (seperti tingkat kemiskinan dan Indeks Pembangunan Manusia/IPM) meskipun daerah tersebut kaya sumber daya alam. Dengan kesenjangan antar wilayah di Indonesia yang bersifat kompleks dan multisektoral, berbagai upaya untuk mengatasinya masih perlu ditingkatkan lagi.

Dari berbagai program pemerintah yang sudah berjalan, menurut Bambang terdapat beberapa kemajuan, di antaranya rasio ketimpangan Indonesia yang terus mengalami perbaikan. Rasio ketimpangan atau yang dikenal dengan rasio gini Indonesia terus mengalami perbaikan sejak 2014.

 

Pada 2017, rasio gini Indonesia tercatat 0,391 dan pemerintah menargetkan untuk menurunkannya sampai 0,380 pada tahun 2018. Ditambah lagi, dalam kurun waktu tiga tahun, tingkat kemiskinan Indonesia mengalami penurunan menjadi 10,12% pada 2017 dari 10,96% pada 2014. Indeks Pembangunan Manusia juga mengalami peningkatan menjadi 70,81 pada tahun 2017 dari 70,18 di tahun sebelumnya.

Selain antar wilayah, ketimpangan juga terjadi antara kawasan perkotaan dan pedesaan. Keduanya memiliki kualitas pelayanan dasar yang tidak merata. Padahal, hal ini sangat krusial bagi produktivitas ekonomi dan kesejahteraan sosial penduduk. Paradoks ini, diprediksi akan semakin lebar pada masa mendatang sehingga menyebabkan ketimpangan wilayah lebih besar.

"Ketimpangan wilayah yang terus berlanjut akan memperlemah suatu daerah, akibat dari pengurasan sumber daya oleh daerah yang lebih maju serta berpindahnya penduduk usia produktif dari daerah tertinggal."

Untuk mengatasi ketimpangan wilayah yang terjadi antar wilayah dan intra wilayah, Bambang menekankan strategi yang mengarah pada pembangunan dengan karakteristik wilayah tertentu, yaitu:

Pertama, pembangunan wilayah dengan potensi dan daya ungkit pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi, dengan menitikberatkan pada percepatan pembangunan pusat-pusat pertumbuhan dan pembangunan perkotaan metropolitan.

Kedua, pembangunan wilayah dengan skala ekonomi wilayah dan ekonomi lokal yang potensial, dengan menitikberatkan pada pembangunan pusat kegiatan wilayah atau lokal, kawasan pedesaan, dan kota-kota sedang.

Ketiga, pembangunan wilayah dengan infrastruktur dan pelayanan dasar yang tertinggal, yang menitikberatkan pada pembangunan di daerah tertinggal, kawasan perbatasan, daerah kepulauan, dan kawasan timur Indonesia.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini