DUBAI – Dubai akan memiliki pusat perbelanjaan terbesar di dunia yang memiliki luas lebih dari 100 kali lapangan sepak bola. Proyek yang disebut dengan Dubai Square itu memiliki anggaran USD2 miliar (Rp29,26 triliun) di Dubicreek Harbour.
Luas Dubai Square mencapai dua kali lipat Dubai Mall dan akan menjadi lokasi Chinatown terbesar di Timur Tengah. Desain Dubai Square fokus pada hiburan futuristik dengan proyeksi tiga dimensi dan tata pencahayaan super canggih.
Hiburan bagi keluarga menjadi prioritas utama dengan hadirnya bioskop, wahana permainan air, arena olahraga, dan supermarket. Sentuhan teknologi menjadi daya jual yang membedakan Dubai Square dengan Dubai Mall.
“Dubai Square menekankan ritel modern dan hiburan dengan menghadirkan teknologi generasi mendatang,” ucap juru bicara Emaar Properties yang mengembangkan Dubai Square bekerja sama dengan Dubai Holding dilansir CNN.
“Itu didesain untuk pelanggar era baru yang identik dengan digital dan tergila-gila dengan teknologi,” ujarnya.
Misalnya, untuk ruang ganti menggunakan kaca interaktif. Kemudian ritel bergaya “omnichannel” dengan menghubungkan toko dengan platform digital yang terkoneksi dengan ponsel dan komputer. Target utama mal itu adalah kaum milenial yang sangat akrab dengan teknologi.
“Target utama pasar kita adalah anak muda yang melek teknologi,” kata juru bicara Emaar yang tak disebutkan namanya.
Menurut Chairman Emaar Properties Mohamed Alabbar, Dubai Square akan menjadi ritel modern dan pusat hiburan. Mal itu juga akan dilengkapi dengan hotel yang memiliki 1.500 kamar dan ribuan unit apartemen.
“Dana pembangunan berasal dari hutang dan separuhnya dari dana yang dimiliki Emaar,” ujar Alabbar dilansir GulfNews.
Alabbar mengungkapkan, mal itu akan dilengkapi dengan jalanan pedestrian, plaza, dan berbentuk seperti kota di dalam ruangan. Mal itu juga tetap memperhatikan bentuk arsitektur Arab.
“Kita menargetkan 75 juta penumpang pesawat yang transit. Kita juga akan menampung lima atau enam juta wisatawan yang akan berbelanja,” katanya.
Untuk itu, Dubai Square akan tersambung dengan kereta metrolink dari bandara ke Stasiun Pusat. Dalam pandangan pakar ritel dari The Unit, Nicolas Rubeiz, revolusi ritel di Dubai bergerak cepat dengan arah yang tepat.
“Dubai membangun mal bukan hanya menawarkan bata dan adukan semen, tetapi menampilkan dunia virtual juga,” katanya.
Struktur demografi di Timur Tengah juga menjadi perhatian utama pengusaha ritel. Tingkat kelahiran tinggi dan populasi anak muda yang dominan. “Separuh populasi Timur Tengah berusia di bawah 25 tahun. Mereka akan menjadi konsumen muda yang menjadi pasar utama dalam dua dekade mendatang,” ungkap Rubeiz.
Ekspansi ritel yang sangat agresif di Dubai memang kontras dengan kebanyakan pusat komersial di seluruh dunia. Pada 2017 tingkat penjualan ritel mengalami penurunan.
Euro-monitor International melaporkan pertumbuhan tahunan penjualan ritel di Dubai mengalami penurunan 1,4% pada tahun lalu dibandingkan 2016 (6,5%). Namun, pertumbuhan penjualan diprediksi akan naik 5,1% pada tahun ini.
“Ledakan ritel tidak menunjukkan peringatan yang berbahaya di Dubai. Banyak ritel lainnya dan pusat perbelanjaan justru mengalami penurunan,” kata Rubeiz. (Andika Hendra)
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.