Share

Inspirasi Bisnis, Raup Jutaan Rupiah dari si Hidung Merah

Vanni Firdaus Yuliandi, Jurnalis · Senin 24 September 2018 05:51 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 22 320 1954211 inspirasi-bisnis-raup-jutaan-rupiah-dari-si-hidung-merah-gapoW6afOP.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA – Salah satu inspirasi bisnis yang dapat dilakukan adalah mengembangbiakkan Red Nose atau biasa dikenal ikan si hidung merah. Red Nose ikan kecil ini ternyata membawa hoki besar, sisiknya yang cemerlang banyak disukai orang asing. Tapi sayang sekali peluang ini belum dilirik orang. Bagi kalangan penggemar ikan hias di luar negeri, Red Nose termasuk jenis ikan favorit.

Karenanya permintaan pasar terhadap si hidung merah ini sangat tinggi. Ukuran badan kecil, sisik indah, dan cara perawatan yang gampang membuat orang bule menyukai ikan ini. Di luar negeri Red Nose banyak dipelihara di ruang perkantoran.

Sementara itu pasokan Red Nose sering kurang. Sebab masih banyak orang beranggapan bahwa membudiyakan Red Nose atau bahasa latin Petitella Georgiae itu susah. Anggapan itu jelas tidak benar. Buktinya Edi Abdulhakim peternak dari Ciseeng, Parung, Bogor, Jawa Barat berhasil mengembangbiakkan ikan keluarga tetra ini.

 ikan

(Sumber: Amazon.com)

Siklus perkembangbiakan Red Nose termasuk cepat. Seekor induk Red Nose mampu bertelur 300 butir setiap hari sekali. Supaya siklus reproduksi lebih cepat, pemijahan harus di lakukan bersama-sama.

Edi menggunakan akuarium berukuran 50cm x 30cm x 30cm sebagai tempat pemijahan (berkembang biak). Setiap akuarium diisi 7 ekor betina dan 10 ekor pejantan. Tapi Anda bisa juga memakai seks-rasio 5 (betina) : 7 (pejantan). Dengan perbandingan seperti itu diharapkan setiap akuarium pemijahan mampu berproduksi setiap hari. Sebuah akuarium mampu mencetak Red Nose 4.500 ekor setiap bulan.

“Bayangkan jika ikan tersebut dijual Rp300.000 per ekor, kita bisa mengantongi uang Rp 1,3 juta,” jelas Ketua Kelompok Tani Ikan Telaga Biru tersebut.

ikan

(Sumber: the fishguide)

Agar induk Red Nose tidak kecapaian karena kawin melulu, Edi memberi mereka ‘cuti kawin’ selama 2 hari setiap minggunya. Umumnya musim paceklik (kekurangan bahan makanan) terjadi pada bulan Mei hingga Agustus. Permintaan pasar luar negeri akan merosot. Sebab, pada bulan-bulan itu banyak orang luar negeri yang pergi berlibur. Akibatnya daya tarik ikan pun ikut luntur.

Hal itu bisa diatasi dengan mengalihkan sasaran ke pasar lokal. Tingkat permintaan pasar lokal terhadap Red Nose cukup tinggi. Buktinya, ikan bermoncong merah ini bisa dijumpai di toko-toko akuarium atau pasar ikan. Itu artinya Red Nose juga banyak digemari oleh masyarakat di negeri ini.

Berikut analisis budidaya ikan hidung merah darat seperti dilansir buku 31 Inspirasi Bisnis Di Masa Krisis karya Tim Flona:

Analisis Usaha

Modal Awal

1. Akuarium @ 50.000 4 buah akuarium = Rp 200.000

2. Filter @40.000 4 unit filter = Rp 160.000

3. Aerator = Rp 150.000

4. Bak Pembesaran = Rp 2.000.000

5. Induk @500 68 ekor induk = Rp 34.000

6. Peralatan lain = Rp 200.000

Total Modal Awal = Rp 2.744.000

rupiah

Biaya Operasional

1. Pakan = Rp 200.000

2. Obat-obatan = Rp 100.000

3. Tenaga kerja (1 orang) = Rp 400.000

4. Listrik = Rp 200.000

Total biaya operasional = Rp 900.000

Pendapatan Kotor (tiap bulan)

Rp 31.500 x 300 = Rp 9.450.000

Asumsi

Seekor induk mampu bertelur hingga 300 butir. Persentase penetasan 60%. Jumlah induk betina 7 ekor setiap akuarium. Setiap bulan(25 hari) sebuah akuarium mampu mencetak 31.500 ekor Red Nose. Harga pasar Red Nose Rp300.000 setiap ekor.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini