Kekuatan Dolar AS di Tengah Perang Dagang

Sabtu 13 Oktober 2018 09:29 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 13 278 1963502 kekuatan-dolar-as-di-tengah-perang-dagang-v9YH0Vz0Nb.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

NEW YORK - Kurs dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena harga ekuitas global rebound dari kemunduran pekan ini.

Mata uang AS juga ditopang oleh peningkatan angka ekspor China yang menenangkan kekhawatiran tentang ekonomi terbesar kedua di dunia itu serta perang dagangnya dengan Washington.

Euro dan sterling mengakhiri kenaikan beruntun tiga hari mereka menjelang KTT Uni Eropa minggu depan, di mana Inggris dan Uni Eropa dapat mencapai kesepakatan Brexit. Demikian seperti dilansir Antara, Sabtu (13/10/2018).

 Baca Juga: Dolar AS Tetap Menguat di Tengah Memanasnya Perang Dagang

Ekspor China melonjak 14,5% pada September dari setahun sebelumnya, kenaikan terbesar tahun-ke-tahun dalam tujuh bulan dan menandai surplus perdagangan dengan Amerika Serikat.

 

Data tersebut menunjukkan bahwa tarif Presiden AS Donald Trump telah diterapkan kepada Beijing belum menekan dengan keras.

"Pasar menghembuskan napas lega dengan angka perdagangan China meskipun perang perdagangan saling balas dengan AS," kata Wakil presiden analisis pasar di Oanda di Toronto, Dean Popplewell.

"Orang-orang senang mengambil risiko." Sebuah yuan yang lebih lemah kemungkinan mengurangi sengatan dari pengenaan tarif AS atas barang-barang produk China senilai USD250 miliar, kata para analis.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan kepada gubernur bank sentral China bahwa masalah mata uang harus menjadi bagian dari pembicaraan perdagangan lebih lanjut AS-China.

Baca Juga: Dolar AS Makin Tertekan Akibat Pelemahan Bursa Saham

Indeks yang melacak dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,23% menjadi 95.234, mengurangi kerugian mingguan menjadi 0,4%.

 

Indeks dolar AS menyentuh tertinggi tujuh minggu di 96,15 karena imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahun mencapai tertinggi tujuh tahun akibat kekhawatiran tentang kenaikan inflasi dan pasokan utang pemerintah AS.

"Sentimen yang mendasari tetap positif untuk uang, tetapi kerentanan, karena minggu ini terpapar, tetap, terutama di bidang politik menjelang pemilihan paruh waktu AS bulan depan," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington.

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini