nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Utang Pemerintah Capai Rp4.416 Triliun Hingga September 2018

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 17 Oktober 2018 14:34 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 17 20 1965207 utang-pemerintah-capai-rp4-416-triliun-hingga-september-2018-sKOpweskNk.jpeg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatatkan posisi utang pemerintah hingga 30 September 2018 sebesar Rp4.416 triliun. Angka ini setara 30,47% dari Produk Domestik Bruto (PDB), namun masih di dalam batas yang ditetapkan 60% dari PDB.

Posisi utang September 2018 meningkat dari posisi di Agustus 2018 Rp4.363 triliun. Juga meningkat dibanding posisi September 2017 sebesar Rp3.866 triliun.

Baca Juga: Fakta Utang Luar Negeri Indonesia, Porsi Swasta Lebih Kecil

Secara rinci, utang berasal dari pinjaman dalam negeri sebesar Rp6,38 triliun dan dari luar negeri sebesar Rp816,73 triliun. Kemudian dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp3.593,2 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, pengelolaan utang semakin baik dan penuh kehati-hatian. Hal ini terlihat dari penurunan defisit APBN yakni pada September 2018 sebesar Rp200,2 triliun atau sekitar 1,35% dari Produk Domestik Bruto (PDB), turun bila dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp272 triliun atau 2% dari PDB. Selain itu keseimbangan primer defisit Rp2,4 triliun, jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu sebesar Rp99,2 triliun.

rupiah

"Itu menggambarkan manajemen utang kita makin hati-hati. Terlihat keseimbangan primer hampir mendekati balanced, bahkan positif di bulan April, Mei, Juni, dan Agustus," jelas dia dalam konferensi pers di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu (17/10/2018).

Adapun secara rinci utang dari penerbitan SBN dominasi Rupiah mencapai Rp2.537,1 triliun. Terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp2.123,3 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp413,8 triliun.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Rp5.446 Triliun, Didominasi BI & Pemerintah

Sementara itu, SBN denominasi valuta asing (valas) mencapai Rp1.056,1 triliun. Terdiri dari penjualan valas SUN sebesar Rp824,7 triliun dan valas SBSN sebesar Rp231,40 triliun. Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman menjelaskan, pengelolaan utang dilakukan dengan mengantisipasi dampak dari ketidakpastian pasar global.

Hal ini terlihat dari pembiayaan anggaran yang dalam dua tahun terakhir tren pertumbuhannya negatif atau menurun. Dari bulan September 2017 pembiayaan anggaran turun 25,1% di September 2018. Tren penurunan ini sejalan dengan penurunan pertumbuhan SBN dalam dua tahun terakhir. Di mana pada September 2018 turun 19,1% dibandingkan posisi September 2017.

rupiah

"Realisasi SBN (neto) sampai dengan 30 September tahun 2015-2018 cenderung menurun sejalan dengan upaya untuk mengurangi biaya utang, pengelolaan cash management dan mempertimbangkan volatilitas pasar keuangan," jelasnya.

"Untuk anstisipasi dampak pasar global, kita juga lakukan front loading, di awal tahun atau semester pertama 2018 (SBN) kita lebih banyak terbitkan, karena kedepan akan terus imbal hasil yang lebih naik (akibat kebijakan suku bunga acuan naik)," tambahnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini