nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Stok Pangan Aman, Mentan: Tidak Ada Alasan Harga Beras Naik

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 08 November 2018 11:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 08 320 1974983 stok-pangan-aman-mentan-tidak-ada-alasan-harga-beras-naik-T3caWB0BXZ.jpeg Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Foto: Dokumentasi Humas Kementerian Pertanian)

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman kembali sidak ke pasar Kamis (8/11/208) pagi. Amran mengecek ketersediaan beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), sebagai barometer stok beras nasional.

Berdasarkan pantauan langsung bersama Direktur Umata (Dirut) Bulog, Satgas pangan Polri, Dirut PT Food Station Tjipinang Jaya sebagai pengelola PIBC, perwakilan Bank Indonesia dan Pemprov. DKI Jakarta, Mentan memastikan ketersediaan beras mencukupi dan harga terkendali.

Baca Juga: Mentan Temukan Masih Ada Harga Beras Rp8.500/Kg

"Kita mengecek pangan di lapangan mulai jam 5 subuh tadi. Alhamdulillah semua posisi stabil. Tidak ada alasan (harga naik). Maaf jangan lagi di bawa ke ranah politik. Ini pangan kita stabil harga ayam hanya Rp 27 ribu/kg, telur Rp 22ribu/kg, kami cek langsung dengan tim lengkap," ujar Amran.

Amran menyampaikan, kenaikan harga beras medium belakangan ini di tengah kondisi stok beras yang cukup, sebagai sebuah anomali.

Dirut PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief Prasetyo Adi menjelaskan, stok beras di PIBC sangat cukup."PIBC hari ini stok nya 50 ribu ton, kemarin 51 ribu ton. Lebih tinggi dari biasanya,” kata Arief.

amran

Ia mengakui ada pergerakan harga untuk beras jenis medium. Dan sudah diantisipasi dengan meminta Pemerintah melalui Bulog agar melakukan Operasi Pasar untuk menjaga laju inflasi.

"Tapi dalam kondisi saat ini sebenarnya memang produksi dari pertanian kita dalam hal ini beras sebenarnya cukup. Kalau di Jakarta saya harus sampaikan cukup, pasokan masih normal," tambahnya.

Baca Juga: Mentan Amran: Ada Anomali Harga Beras di Pasaran

Menurut Arief ketersediaan beras medium menurun karena ada kecenderungan di up menjadi beras premium. "Artinya kalau panennya segitu kemudian mereka prefer ke premium, karena margin nya lebih tinggi. Ini adalah mekanisme ekuilibrium baru, ini fenomena yang terjadi. Jadi bukan masalah produksi,” sambung Arief.

Selama ini yang disebut sebagai beras Premium itu dengan spesifikasi 5% broken. Sedangkan di pasar sekarang, yang disebut premium itu 15% broken. Dan jumlahnya samgat banyak (dibanding medium).

"Kalau saya melihatnya ini lebih baik. Jadi orang ngambilnya berasnya yang lebih baik. Nggak mau lagi beras medium," pungkasnya. Saat ini ketersediaan beras premium di PIBC mencapai lebih dari 80%. Sedangkan beras medium di bawah 15%.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini