nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sudah 50 Perusahaan IPO, BEI: Ini Pencapaian Tertinggi Sejak 1992

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 09 November 2018 13:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 09 278 1975480 sudah-50-perusahaan-ipo-bei-ini-pencapaian-tertinggi-sejak-1992-U0mfW4XMuq.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Okezone)

JAKARTA – Perdagangan pada akhir pekan ini, Jumat (9/11/2018) resmi membuat perusahaan yang tercatat di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) genap menjadi 50 emiten di 2018. Menjadi pencapaian terbanyak sejak privatisasi Bursa pada tahun 1992.

Pagi ini perdagangan dibuka dengan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) PT Dewata Freightinternation Tbk. Emiten dengan ticker code DEAL yang bergerak di bidang pengiriman kargo itu jadi perusahaan ke-50 yang melantai di BEI di tahun ini.

"Hari ini jadi yang membahagiakan dan membanggakan bagi BEI dengan tercatatnya perusahaan ke 50. Menorehkan achievement (pencapaian) baru melalui pencapaian jumlah Perusahaan Tercatat tertinggi sejak privatisasi bursa," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna di Gedung BEI, Jumat (9/11/2018).

Baca Juga: 50 Perusahaan Listing di BEI Sepanjang 2018

BEI optimis jumlah Perusahaan Tercatat di sepanjang tahun 2018 akan melampaui 50, melihat saat ini terdapat 14 perusahaan potensial pada pipeline pencatatan BEI. Pencapaian ini dikatakan tidak lepas dari dukungan Pemerintah untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif, serta dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memicu perusahaan memanfaatkan pasar modal dalam pengembangan usaha.

Berbagai upaya pun dilakukan BEI untuk meningkatkan jumlah emiten, yakni dengan berinteraksi dan secara langsung berperan aktif untuk mendatangi kantong-kantong entrepreneur di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai opsi pendanaan bagi perusahaan melalui Pasar Modal.

ihsg

Literasi kepada masyarakat dilakukan dalam bentuk workshop go public maupun one-on-one meeting. Di sepanjang tahun 2018 ini BEI telah menyelenggarakan 27 kali workshop go public di berebagai kota di Indonesia. Sedangkan one-on-one meeting dilakukan dengan sekitar 350 perusahaan baik swasta, BUMN, BUMD maupun entitas anak perusahaan di sepanjang tahun 2018.

Selain pencatatan saham, sepanjang tahun 2018 ini telah terbit 79 emisi obligasi dan sukuk dengan total nilai emisi sebesar Rp97,24 Triliun, Surat Berharga Negara (SBN) dengan total nilai emisi Rp173,78 Triliun.

Kemudian Exchange Traded Fund (ETF) sebanyak 8 Kontrak Investasi Kolektif dengan total nilai awal penerbitan sebesar Rp53,9 Miliar, dan 3 Efek Beragun Aset (EBA) dengan total nilai awal penerbitan sebesar Rp3,62 Triliun.

Baca Juga: IPO, Distribusi Voucher Nusantara Bidik Rp800 Miliar

Untuk meningkatkan jumlah Perusahaan Tercatat dan penerbitan efek di BEI, maka dilakukan penyusunan regulasi baru. Ini untuk membuka kesempatan bagi perusahaan rintisan (startup) dan perusahaan dengan aset skala kecil dan menengah melalui peluncuran papan akselerasi.

Selain itu, BEI juga berinisiatif menambah regulasi baru untuk mempermudah proses pencatatan perusahaan di sektor pertambangan mineral dan batu bara, perkebunan, energi terbarukan (renewable energy), dan pertambangan minyak dan gas bumi.

Konsep peraturan ini dirancang dengan memperhatikan kebutuhan pasar yang membutuhkan pendanaan dalam tahap awal (earlier stage). Saat ini BEI juga dalam tahap menyusun kembali Peraturan Nomor I-A yang secara garis besar diarahkan untuk mempermudah Perusahaan agar dapat mencatatkan sahamnya di BEI.

ihsg

Selain itu, Notasi Khusus juga direncanakan untuk dipublikasikan sehingga investor dapat dengan mudah melihat informasi yang signifikan terkait Perusahaan Tercatat sebelum mengambil keputusan investasi.

Nyoman berharap semakin banyak perusahaan yang dapat menjadi bagian dari pasar modal dengan melakukan pencatatan efek di BEI. Tentunya itu akan semakin membuat banyak pilihan instrumen investasi bagi investor, mengakselerasi pertumbuhan perusahaan dan mem-boosting pertumbuhan perekonomian Indonesia.

"Jadi selama bagi pasar modal. Mari berkarya dan berkontribusi bagi negara," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini