nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Akses Perdagangan Indonesia ke Eropa Terbuka Lebar

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 27 November 2018 14:42 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 11 27 320 1983464 akses-perdagangan-indonesia-ke-eropa-terbuka-lebar-qN3jJLeUOx.jpeg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Peluang kerja sama ekonomi antara Indonesia dan negara-negara anggota European Free Trade Association (EFTA) terbuka lebar. Akses pasar barang, jasa, dan investasi makin mudah setelah ditandatangani pernyataan bersama (joint statement) Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICEPA) oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dengan empat menteri negara-negara anggota EFTA di Sekretariat EFTA, Jenewa, Swiss, akhir pekan lalu.

Hal tersebut menjadi benang merah dari Forum Bisnis yang diselenggarakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern di Kota Jenewa akhir pekan lalu. Forum Bisnis bertema “Optimizing the Benefits of Indonesia-EFTA CEPA Agreement” dihadiri oleh peserta terbatas sekitar 20 pelaku usaha di Swiss yang memiliki bisnis di Indonesia.

Baca Juga: Indonesia Tak Ingin Perang Dagang dengan China

Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein Muliaman D Hadad dalam keterangan tertulisnya kemarin mengatakan, tujuan utama forum bisnis ini adalah untuk sosialisasi pemanfaatan IECEPA bagi para pelaku bisnis di Indonesia dan negara-negara EFTA. Perundingan IECEPA telah berlangsung secara intensif selama hampir delapan tahun atau perundingan CEPA terpanjang yang pernah dimiliki oleh Indonesia hingga saat ini.

“Kita dorong para pelaku usaha di Indonesia memanfaatkan CEPA dengan negara-negara EFTA yang telah diperjuangkan sejak lama ini karena berdasarkan survei sebagian perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement) mandek atau tidak dimanfaatkan dengan baik,” ucap Muliaman.

grafik

Dalam forum bisnis tersebut, terkuak bahwa Indonesia- EFTA CEPA meningkatkan akses pasar perdagangan barang Indonesia ke EFTA antara lain produk-produk perikanan, industri (tekstil, furnitur, sepeda, elektronik, dan ban mobil), serta pertanian (termasuk kopi dan kelapa sawit). Pada perdagangan jasa, akses pasar bagi para pekerja Indonesia (Intra Corporate Trainee, Trainee, Contract Service Supplier, Independent Professional, serta Young Professional) ke EFTA akan lebih terbuka.

Contohnya sektor jasa yang akan memperoleh keuntungan antara lain jasa profesi, telekomunikasi, keuangan, transportasi, dan pendidikan. Indonesia juga akan memperoleh peningkatan investasi dari negara anggota EFTA pada sektor energi dan pertambangan, permesinan, pertanian, infrastruktur sektor perikanan, kehutanan, industri kimia, dan sebagainya.

Baca Juga: Jokowi Berharap Namibia Dukung Perdagangan Bebas RI-SACU

Selain itu, Indonesia juga akan mendapatkan kerja sama dan capacity building misalnya dalam sektor perikanan dan aquamarine, promosi ekspor, pariwisata, UMKM, HKI, kakao, sustainability Maintenance, Repair and Overhaul(MRO), pendidikan vokasional, dan lainnya.

European Free Trade Assocition (EFTA) merupakan organisasi regional dan kawasan perdagangan bebas yang terdiri atas empat negara di Eropa, yaitu Swiss, Liechtenstein, Norwegia, dan Islandia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, negara-negara EFTA merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-23 dan negara asal impor nonmigas ke-25 terbesar bagi Indonesia. Pada 2017 perdagangan Indonesia-EFTA mencapai USD2,4 miliar. Sementara nilai ekspor Indonesia ke EFTA sebesar USD1,31 miliar dan impor Indonesia dari EFTA sebesar USD1,09 miliar.

Dengan demikian, Indonesia masih mengalami surplus perdagangan dengan EFTA sebesar USD212 juta. Ekspor utama Indonesia ke EFTA antara lain perhiasan, perangkat optik, emas, perangkat telepon, dan minyak esensial.

(Hatim Varabi)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini