nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rupiah Menguat ke Rp14.300/USD, Gubernur BI: Alhamdulillah

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 30 November 2018 15:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 11 30 278 1985053 rupiah-menguat-ke-rp14-300-usd-gubernur-bi-alhamdulillah-PO80uUmygz.jpeg Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian perkasa sepanjang bulan November. Rupiah bahkan menguat tajam ke level Rp14.300 per USD.

Dilansir dari Bloomberg Dollar Index, Jumat (30/11/2018) pukul 14.30 WIB, Rupiah perdagangan spot exchange berada di level Rp14.309 per USD.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, beberapa kebijakan Bank Sentral membuat Rupiah kian menguat, di samping juga didorong pengaruh global.

"Penguatan Rupiah ini tentu saja Alhamdulillah. Itu dari berbagai faktor, pertama tentu saja confidence terhadap ekonomi Indonesia, terhadap kebijakan-kebijakan yang terus kita tempuh dengan semakin kuat," kata dia di Gedung Pusat BI, Jakarta, Jumat (30/11/2018).

Baca Juga: Rupiah Terus Menguat, Pagi Ini di Rp14.350/USD

Perry menyatakan, kepercayaan investor itu terlihat dari aliran modal asing masuk ke dalam negeri (capital in flow). Dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) tercatat modal asing masuk di bulan November sebesar Rp34,25 triliun.

"Dengan aliran modal asing masuk tentu saja itu menambah suplai dan kemudian memperkuat Rupiah," katanya.

Dia menilai, berbagai kebijakan BI juga berhasil membuat mekanisme pasar semakin bekerja. Di mana supply dan demand di pasar berkembang dengan baik, tak hanya melalui instrumen spot, tapi juga swap dan DNDF (domestic non deliverable forward).

"Terlihat juga perbedaan atau spread antara nilai tukar Rupiah di spot yaitu Jisdor, dengan nilai tukar Rupiah yang di DNDF itu spread-nya semakin kecil bahkan di bawah Rp50. Itu menunjukan mekanisme pasar begitu bekerja," ujar dia.

Baca Juga: BI: Pernyataan Powell hingga Harga Minyak Bikin Rupiah Perkasa

Di sisi lain, faktor global juga mempengaruhi yakni adanya proses perundingan perdagangan antara AS dengan China. Selain itu, pernyataan Chairman Federal Reserve Jerome Powell, yang memperlunak pandangannya atau stance terhadap suku bunga acuan The Fed (Fed Fund Rate/FFR). Powell memandang suku bunga acuan sudah berada sedikit di bawah kisaran suku bunga 'netral'.

BI sendiri memperkirakan, The Fed akan menaikkan kembali suka bunga acuannya pada Desember 2018, disusul tiga kali kenaikan lagi di 2019. Kondisi ini, kata Perry, sudah diantisipasi BI dengan kenaikan suku bunga acuan sebanyak 175 basis points (bps) sepanjang 2018 ini.

Meski demikian, Perry menilai, meski menguat kurs Rupiah saat ini masih berada di level undervalued. "Kami melihat meski nilai tukar Rupiah stabil, menguat, namun Rupiah itu masih undervalued," pungkasnya.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini